Cerpen

Apakah Aku Bisa Keluar Dari Zona Nyaman?

Halo sobat KorSev! Ketemu lagi nih sama kita yang tentunya dengan cerita pendek yang bisa menemani waktu senggang kalian. Tanpa basa-basi lagi, yuk langsung aja baca cerpennya di bawah ini!

Apakah Aku Bisa Keluar Dari Zona Nyaman?

Oleh: Cantika Jagad

Alarmku terus berbunyi membangunkanku untuk memulai kegiatanku di pagi ini. Perkenalkan, namaku Anya. Seorang gadis biasa yang mempunyai sifat yang mudah bosan dengan suatu hal dan pemalas. Seperti biasa  aku bangun tepat saat jam pelajaran pertama akan dimulai. Bagi diriku hal itu lebih bagus daripada bangun terlambat dan tertinggal mata pelajaran. Padahal sebenarnya aku memang susah untuk bangun lebih awal.

Selama pandemi Covid-19 ini aku menjadi gadis yang pemalas berkedok self love. Yang sebelumnya menjadi anak ambis, kini aku menjadi anak yang lebih mementingkan kebutuhan pribadi daripada kewajiban. Semua ini bermula karena aku sangat bosan dengan kegiatanku yang begitu-begitu saja. Sebenarnya ada keuntungannya juga dari sekolah di rumah, aku lebih paham tentang kemajuan teknologi dan bisa mendapatkan waktu yang lebih banyak untuk kuhabiskan dengan keluarga maupun  diriku sendiri. Namun, sifat malasku berkedok “Mencintai diriku sendiri” muncul sejak aku hanyut di zona nyamanku. Ya, aku mengakuinya sebenarnya ini bukan kesalahan dari keadaan tetapi dari diriku sendiri.

Kegiatanku yang dimulai di pagi hari dengan mengirim bukti kehadiran dan mengikuti Zoom atau Google Meet bila diadakan. Seperti yang sudah aku bilang, aku anak pemalas yang hobby menunda mengerjakan tugas. Selain itu, aku memiliki hobby menonton drama korea hingga episode terakhir dan membaca komik, kasur adalah tempat favoritku.Kalau sudah melakukan hal yang kusukai, aku tidak bisa diganggu gugat. Seperti itulah kegiatanku sehari-hari. Tentu saja, kalau soal Ibu pasti Ibuku memarahiku, karena melihat perilaku anak gadisnya yang seperti ini.

Ibu: “Anak Ibu yang satu ini kalo ke luar kamar cuma kalau laper aja. Anya, sini makan, Ibu udah selesai masak. Kamu apa enggak bosen di kamar terus? Ibu aja yang liat sampai bosen.” ucap Ibu sambil menyiapkan makanan di meja makan.

Anya: “Ibu tahu aja kalau Anya lagi laper, hehehe. Sini Bu, Anya bantuin.” Berjalan menghampiri Ibu dengan rasa bersalah, karena belum membantu Ibu melakukan pekerjaan rumah.

Kak Dian: “Anya, apa kamu nggak capek nonton drakor terus?! Dek, bentar lagi kamu ujian akhir semester lho, jangan kebanyakan main HP. Coba cari kegiatan yang bermanfaat.”

Anya: “Iya kak Dian…” menjawab dengan rasa sedikit kesal.

Ibu: “Jangan cuma iya aja, dilakuin juga Anya.”

Anya: “Iya Bu.”

(Setelah selesai makan, aku memasuki kamarku lagi)

Sebenarnya jika Ibu dan Kak Dian memarahi dan menasehatiku aku tidak merasa kesal, justru aku merasa senang karena mereka peduli denganku dan aku juga merasa bersalah dan sadar bahwa hal yang aku lakukan memang menyenangkan namun kesenangan itu hanya sesaat, dan jika aku terus seperti ini hal yang tidak aku inginkan akan terjadi di masa depanku.  

Sebelumnya aku juga tersadar bahwa kegiatanku yang tidak begitu bermanfaat tidak baik untuk kedepannya, tetapi saat itu aku masih belum memiliki niat untuk berubah dan niat untuk keluar dari zona nyamanku. Mengingat guruku hampir menghubungi orang tuaku karena nilaiku menurun dan sering terlambat mengumpulkan tugas. Tetapi sekarang berbeda, aku akan berusaha dan berjanji kepada diriku sendiri, mulai saat ini aku akan berubah menjadi orang yang lebih baik dan bertanggung jawab atas hidupku serta hal yang aku lakukan.

Wah, sayang sekali ceritanya udah selesai. Jangan sedih ya teman-teman, tetep pantengin kami terus untuk karya-karya selanjutnya. Terima kasih!

sumber pendukung: https://bit.ly/3JKq1xR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
error: Jangan yaa brotherkuu :)