Cerpen

Jaga Harga dan Raga

Hallo sobat KorSev! kali ini kita kembali lagi dengan membawakan Cerpen karya anggota Koran Seveners. Yang pastinya seru dan menarik lho, Yuk! Langsung saja simak Cerpen dibawah ini ^^

Jaga Harga dan Raga

By Sicilia Sandra Yudistira

Siang ini Rangga dan ibunya pergi ke toko supermarket untuk membeli keperluan bulanan. Hari ini ia tidak ada kelas dan tidak ada tanggungan tugas, jadi ia dapat bersantai. Ia memilih untuk menemani ibunya ke swalayan terdekat. Setelah sampai di supermarket, ia membantu ibunya mendorong troli. Pertama-tama mereka pergi ke bagian bahan pokok sehari-hari. Ibunya Rangga meminta tolong Rangga untuk memasukkan beras 10kg ke dalam troli katanya, “Nak Rangga, tolong masukkan beras itu, Nak. Yang merknya Sania ya. Mama kesana dulu mau ngambil telur.” Rangga pun menjawab, “Oke, Ma.”

Letak beras tersebut berada di bagian paling bawah, dan ada seorang wanita berbaju biru yang sedang berjongkok untuk mengambil salah satu beras tersebut. Niat hati Rangga ingin membantu namun mata Rangga mengarah ke arah pria yang terletak tidak jauh dari tempat beras. Pria itu nampak berjongkok, tidak terlihat ingin mengambil sesuatu dari rak di depannya. Tatapannya melirik ke arah samping ke tempat wanita tadi berada. Memang wanita tersebut memakai pakaian terbuka di bagian bahu, namun tidak terlalu terbuka, masih sopan. Rangga menyadari tatapan pria paruh baya itu.

Dirasa salah Rangga mengambil inisiatif untuk beranjak ke rak di antara pria dan wanita tersebut. Ia berpura-pura sibuk, mencari barang di rak tersebut. Diliriknya pria yang berjongkok tadi, ia seperti menyadari sikap Rangga, dan akhirnya memutuskan untuk pergi. Sempat terlintas di benaknya untuk membantu wanita tersebut mengangkat beras, namun ia ragu apabila wanita tersebut ingin dibantu, yang tentu mengaharuskannya berdekatan dengan wanita tersebut. Ternyata wanita tersebut mengangkatnya dengan mudah. Hingga akhirnya wanita tersebut pergi dan mendorong trolinya ke bagian lain. Ia pun berjongkok mengambil beras dan meneruskan berbelanja dengan ibunya.

Saat sudah selesai berbelanja, Ia dan ibunya segera menuju kasir untuk membayar belanjaan tersebut. Antrian tersebut tidak terlalu panjang, hanya ada satu antrian. Ternyata antrian di depannya adalah pria yang ia temui tadi. Pria tersebut menyadari kehadiran Rangga. Sepintas ia melirik dan melayangkan tatapan sinisnya kepada Rangga dan melenggang pergi begitu saja setelah membayar satu botol minuman penambah energi. Tentu hal ini aneh ia hanya membeli satu botol namun waktu yang diperlukan untuk selesai dan membayarnya sama seperti Rangga dan ibunya. Padahal belanjaan yang dibeli Rangga dan Ibunya lumayan banyak. Dan juga memakan waktu yang tidak sedikit. Merasa kebingungan ia hanya menyimpan hal tersebut sendiri di dalam otaknya.

Saat sudah selesai membayar ia dan ibunya segera pergi menuju parkiran mobil. Parkiran mobil di supermarket tersebut terletak di depannya persis. Saat ingin memasukan barang belanjaan, ia mendengar seseorang seperti meneriakkan kata “Mas”, sedangkan di parkiran tersebut hanya ada ia dan ibunya. Ia pun menoleh karena merasa terpanggil. Dilihatnya wanita tadi melambai ke arahnya sembari mendatanginya.  “Mbak manggil saya?” Tanya Rangga dengan penuh kebingungan sembari menunjuk dirinya sendiri. “Iya Mas, bener kok”, jawab wanita tersebut dengan senyum tipis. “Ohh, ada apa ya Mbak?” Rangga sudah merasa was-was takut wanita tersebut sadar bahwa ia tadi ada pada saat kejadian tidak mengenakan. Ia takut dituduh bahwa ia melakukan hal yang tidak-tidak terhadap wanita tersebut.

“Engga saya apa-apa in kok Mas, saya cuma mau bilang terima kasih. Tadi ada bapak-bapak yang ngikutin saya terus. Karena takut saya cari tempat rame eh kebetulan ada Masnya, tadi Masnya bantu saya juga kan? Makasih ya Mas.” Jawab wanita tersebut dengan kekehan di awal kalimatnya. Rangga pun merasa lega. “Eh, iya Mbak, maaf ya Mbak kalo kurang nyaman. Tapi tadi saya liat bapak-bapaknya baru keluar pas saya juga keluar, takutnya Mbaknya masih diikutin sampai selesai belanja” Wanita tersebut pun tersenyum dan terkekeh jawabnya, “Oh itu, bapaknya udah saya laporin ke pihak supermarketnya, katanya emang suka gitu, keliling ngikutin cewe sampe beberapa udah komplain karena merasa risih. Dan tadi akhirnya dia nggak dibolehin ke sini lagi sama pihak supermarket. Karena dia nggak mau dilaporin polisi jadi sanksinya itu aja.”

Rangga bersyukur ternyata feelingnya benar. “Kalo gitu, udah dulu ya Mas, saya mau balik ke rumah, makasih banget bantuannya, semoga Masnya selalu dilindungi Tuhan karena kebaikannya.” Belum Rangga menjawab wanita tersebut sudah keburu pergi. Ia mengaminkan dalam hati doa wanita tersebut dan masuk ke dalam mobil, mendapati ibunya sudah menunggu sembari tersenyum hangat kepadanya. Sepanjang perjalanan ibunya terus tersenyum menatap putranya itu. Karena risih tidak biasa ditatap sambil tersenyum Rangga pun bertanya “Kenapa Ma? Kok aku diliatin segitunya?” ibunya pun hanya terkekeh dan menjawab, “Emang ga boleh ya Mama liatin anak Mama yang keren ini?” Jawab Rangga dengan nada bergurau, “Eh, boleh kok, cuma siapa tau ada maksud lain gituu…hahaha…”. Ibunya tidak memberi jawaban hanya mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Rangga. “Jaga selalu harga dan raga ya Nak, semoga Tuhan memperbanyak manusia seperti kamu.” Rangga pun hanya terdiam dan kembali fokus menyetir.

Sumber pendukung: https://pin.it/3B9mh0R

Sekian dari kami, sampai bertemu di karya Korsev berikutnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
error: Jangan yaa brotherkuu :)