Cerpen

Cerpen Spesial Hari Guru

Hallo sobat koran seveners, dalam memperingati Hari Guru Nasional, kali ini ada cerpen menarik yang dibuat oleh Daffa Pradipa dan Cantika Jagad. Penasaran kan sama ceritanya? yuk simak ceritanya dibawah ini!

Kuning Tak Lagi Mendung

Oleh : Daffa Pradipa

Pagi itu pelajaran matematika, aku duduk disamping Mutia. Mutia adalah teman baik ku, dia ramah dan murah senyum sehingga ia disukai banyak orang. Tetapi kami berbeda. Aku adalah tim murid yang sama seperti anak yang lainnya, yang tidak suka dengan ibu Itta. Bu Itta guru matematika kami, berusia sekitar 32 tahun dan belum menikah. Beliau galak jika mengajar, jadi satu kelas bahkan hampir satu sekolah tidak suka dengan cara mengajar ibu Itta. Bahkan disekolah kami, beliau diberi julukan yang tidak-tidak. Kami menyebutnya bu cabe, karena sifatnya yang galak dan bikin panas hati murid-murid nya.

Seperti yang ku bilang, Mutia ramah dan murah senyum bahkan kepada bu Itta. Berbeda denganku, dengan kami yang ada di kelas, yang selalu menatap sedikit sinis kepada bu Itta. Walaupun Mutia juga tidak jarang di tanya dengan nada sedikit tinggi.

“Mutia, kenapa sih kamu ramah banget sama bu Itta, padahal kamu tadi sedikit dibentak loh.” Tanyaku setelah jam pelajaran selesai.

“Engga, ibu Itta itu memang agak keras cara mengajar nya, tetapi ya beliau kan tetap guru juga, lagian cara mengajar nya aku suka.” Jawab nya, sambil memasukkan buku kedalam tas.

“Tapi… cara ngajar nya itu loh yang keras kayak ‘ngga bisa apa pelan-pelan apa dan sedikit lebih ramah gitu ke muridnya”

“Iya Sal, tapi ya memang dia guru kita, kita juga harus tetap hargai dan hormati beliau walaupun itu membuat jengkel hati kita. Siapa tau beliau mengajar kayak gitu karena ada tekanan?” Balas Mutia sambil menenangkan ku yang sedang kesal.

“Iya juga, tapi yaudah sih yang penting sekarang udah selesai tuh pelajaran matematika, males banget aku” Jawabku, menghela nafas.

“Gimana, nanti siang jadi ngga sepulang sekolah kita ke toko buka?” Tanya Mutia.

“Jadi doonggg.. masa engga sih” Balasku dengan suara yang keras.

“Oke, dah itu bu Eni udah mau masuk kelas, kita belajar dulu terus nanti siang kita pergi deh”

“Okedeh.. ” Ucapku, menutup pembicaraan.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, kami segera keluar dari sekolah dan menuju ke toko buku yang kami tuju. Kami berdua hanya berjalan kaki menuju toko buku tersebut, karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah kami, hanya sekitar 2 km dari pintu gerbang sekolah.

Toko buku yang kami datangi lumayan besar, dan baru saja buka beberapa minggu lalu, karena itu kami ingin mendatangi toko buku tersebut.

Sesampainya disana, aku dan Mutia langsung menuju rak buku bagian novel. Aku dan Mutia memang sangat menyukai buku novel, apalagi buku karya Tere Liye, kami sangat menyukai karya nya. Aku dan Mutia berada di bagian kumpulan buku yang baru terbit bulan ini. Sembari melihat tumpukan buku-buku baru, aku tidak sengaja melihat kearah rak buku bagian self improvement dan melihat seseorang yang tidak asing bagiku.

“Mutia, itu bukan nya bu Itta ya?” Tanyaku penasaran, melihat kearah rak buku yang ada disana.

“Bu Itta? Mana?” Mutia bertanya balik kepadaku, sambil menaruh buku yang barusan ia pegang.

“Itu tuh di bagian buku-buku self improvement

“Hampiri aja yuk, siapa tau beneran bu Itta” Ajak Mutia kepadaku.

“Tapi aku males banget ketemu bu Itta, kamu aja deh sana, aku tunggu disini” Balesku dengan malas.

“Udah ayok ikut aja, nanti aku aja yang ngomong” Mutia meyakinkan.

“Yaudah deh ayo, tapi aku diem aja ya”

“Iya”

Mutia berhasil membujuk ku untuk mendatangi ibu Itta yang terlihat melihat-lihat judul buku yang tertata rapi di rak buku itu.

“Hai bu Itta” Sapa Mutia, aku hanya terdiam.

“Hai, kalian murid ibu ya?” Sapa bu Itta balik.

“Iya bu, masa ibu ngga inget, baru tadi pagi loh kami diajari sama ibu, Hahaha” Mutia mencoba menyairkan suasana.

“Kalian ngapain disini? Mencari buku?”

“Iya bu, saya sama Salsa disini sedang melihat buku-buku novel, kami berdua sangat senang membaca novel, apalagi karyanya Tere Liye. Beliau sangat jenius dalam memilih kata” Balas Mutia dengan nada yang lembut.

“Iya ibu tau beberapa karyanya”

“Ibu sendiri disini mencari buku apa? Kok melihat-lihat di bagian ini bu?” Mutia bertanya balik, menunjuk ke beberapa buku yang terpajang.

Bu Itta hanya terdiam membisu, tidak menjawab. Tangannya memegang sebuah buku yang tidak bisa terlihat sampulnya.

“Oiya bu, saya masih sedikit kurang paham mengenai materi tadi pagi yang ibu ajarkan”

“Materi matriks bukan?” Bu Itta bertanya balik.

“Iya bu, saya masih belum paham materi itu” Jawab Mutia.

Selama Mutia dan bu Itta asik mengobrol aku hanya terdiam tersenyum kepada bu Itta. Beliau juga tidak terlalu hirau kepadaku. Dipikiran ku ada beberapa pertanyaan kecil seperti ‘Kenapa bu Itta beda banget sama yang disekolah? Kenapa bu Itta lebih ramah ya disini? Kenapa bu Itta seperti sedang sedih ya?’. Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalaku. Karena seperti yang kulihat, bu Itta sangat berbeda daripada saat disekolah.

“Bagaimana kalau habis ini kalian kerumah ibu? Kalau misal ada materi yang kalian belum pahami dan belum kalian mengerti bisa tanya ibu saja langsung dirumah ibu”

Bu Itta menawarkan kesempatan itu kepada kami yang membuat kami kaget.

” Apakah boleh bu?” Tanya Mutia, heran.

“Tentu saja boleh”

“Baik bu dengan senang hati, jika diperbolehkan” Jawab Mutia.

“Yaudah ibu bayar dulu ya kalau begitu, kalian tunggu disini dulu”

“Baik bu, siap laksanakan” Balas Mutia, gembira.

Sembari menunggu bu Itta bayar, aku dan Mutia masih melihat-lihat buku terbitan terbaru yang dipajang depan toko.

“Sal, kamu mau ikut engga?” Tanya Mutia kepadaku.

“Aku ikut aja deh, lagian habis ini aku juga langsung pulang, ngga ngapa-ngapain di rumah” Jawabku.

“Okedeh, lagian ngga ada ruginya kamu ikut. Kita jadi bisa nanya materi yang kita ngga tau kan, dan kita juga bisa tau rumahnya bu Itta” Jawab Mutia meyakinkan.

“Iya sih” Balesku, singkat.

Ibu Itta terlihat sudah selesai membayar buku yang beliau beli. Aku dan Mutia mengikuti bu Itta berjalan dibelakang nya, menuju rumah beliau. Memasuki gang-gang kecil yang hanya bisa dilalui motor. Terlihat keadaan lingkungan rumah yang sedikit kumuh. Aku memandang kearah rumah dengan cat berwarna putih tulang, yang sedikit terlihat kusam dan kurang terawat, berada di sudut jalan.

Rumah itu milik bu Itta. Ibu mengambil kunci rumah yang ada di dalam tas coklat miliknya. Membuka pintu diikuti salam, kami mengikuti dibelakang nya. Aku duduk di sofa yang sedikit berdebu, yang mungkin jarang di bersihkan. Terlihat rumah nya sedikit berantakan, dengan beberapa barang yang berserakan.

“Ini minuman kalau kalian haus, maaf ya kalau rumah ibu sedikit berantakan, ibu belum sempat beberes tadi” Kata bu Itta sembari menaruh 2 buah gelas berisikan air mineral.

“Hehe iya bu tidak masalah. Wahh, terima kasih bu, tapi kami tidak mau merepotkan ibu” Balas Mutia dengan sedikit perasaan tidak enak.

“Engga kok mbak, lagian kan ini cuma air mineral” Jawabnya

“Bagaimana, apa yang ingin kalian tanyakan?” Lanjut bu Itta bertanya. Mutia mengeluarkan buku tulis dan buku paket yang ada di dalam tas nya, dan menunjuk ke salah satu halaman yang ada di buku itu.

Mutia menjelaskan materi mana yang ingin ia tanya, aku hanya mengikuti saja. Cara ibu Itta mengajar sangat berbeda dengan di sekolah, disini beliau mengajar tanpa galak sedikit pun. Akupun bingung dengan bu Itta. Setelah beberapa materi yang dijelaskan, selesai sudah belajar kami siang ini. Ibu Itta berani untuk bercerita sedikit mengenai hidupnya.

“Maaf ya kalau ibu di sekolah selalu marah-marah dan buat kalian ngga nyaman selama pembelajaran” Kata bu Itta, dengan nada pelan.

Aku dan Mutia terkejut mendengar nya. Bu Itta jarang bahkan hampir tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu. Aku dan Mutia hanya terdiam membisu. Bu Itta melanjutkan.

“Sebenarnya ibu dulu tidak seperti sekarang, ibu sadar itu. Cara ibu mengajar dulu hampir disenangi oleh seluruh murid di sekolah. Tetapi karena ada suatu hal ibu merasa jadi berubah begini, ibu jadi berubah dalam cara mengajar di sekolah”

“Apa itu bu?” Tanyaku penasaran. Aku yang daritadi hanya terdiam kini berani berbicara dengan nada pelan.

“Kejadian nya 3 tahun lalu, ada kakak kelas kalian yang tidak tau kenapa seperti tidak suka dengan ibu. Ibu sering di jahilin oleh kakak kelas kalian itu, mereka sekelas, kompak. Dan hanya kelas itu yang tidak suka dengan ibu. Ibu juga tidak tau mengapa”

“Lalu bagaimana bu?” Tanya ku, penasaran.

“Ibu selalu di diamkan ketika belajar, selalu di omongin dibelakang. Ibu tau juga karena ada satu murid yang baik kepada ibu dari kelas itu. Hanya dia. Dia berani bercerita kepada ibu tentang teman-teman nya dikelas itu. Ibu ingat sekali nama nya”

“Siapa dia bu?” Kini Mutia yang bertanya.

“Tania, kakak kamu Mutia. Dia baik kepada ibu. Ibu selalu memperhatikan kamu di kelas, kamu ramah seperti kakak kamu” Jawab bu Itta. Membuat Mutia terkejut.

“Kelas itu yang membuat ibu berubah seperti ini, ibu kesal sehingga ibu memilih untuk mengajar seperti sekarang ini” Lanjut nya.

“Maaf jika saya lancang, tapi bukan kah itu yang membuat ibu tidak disukai oleh murid-murid di sekolah?” Tanyaku dengan sedikit heran.

“Iya ibu juga merasa begitu. Tetapi ibu sudah nyaman dengan cara mengajar seperti ini dan ibu masih mengalami trauma untuk kembali mengajar seperti dulu” Ucap bu Itta.

“Apakah ibu tidak mau mencoba dengan metode belajar seperti dulu?” Aku berkata sambil mengambil segelas air yang ada di meja.

“Ibu masih belum berani” Jawabnya singkat.

“Apa yang mereka perbuat sampai ibu mengubah cara mengajar ibu?” Tanya Mutia.

“Sebenarnya itu adalah salah satu faktor, mengapa ibu mengubah cara mengajar”

“Memangnya ada yang lain bu?” Tanya ku, penasaran.

“Ada beberapa hal lain yang menyebabkan hal ini, tetapi ibu tidak bisa cerita. Karena berhubungan dengan masalah pribadi ibu masa itu”

Seketika kami terdiam. Jam menunjukkan pukul 2 siang. Hujan mulai turun. Sedang. Tidak deras. Aku dan Mutia masih mendengarkan ucapan bu Itta dengan serius. Siang itu, aku merasa ibu Itta sangat berbeda dengan di sekolah. Jauh sekali berbeda.

“Saya yakin” Ditengah keheningan yang sebentar itu, Mutia bersuara.

“Maksud kamu?” Tanyaku, heran.

“Saya yakin, bila ibu mengajar dengan cara dahulu pasti murid-murid di sekolah suka dengan ibu. Apalagi saya sendiri, sebelumya saja saya suka dengan cara ibu mengajar sekarang, apalagi jika ibu mengajar dengan cara yang berbeda” Mutia memberikan alasan untuk meyakinkan hati bu Itta.

“Apakah benar begitu?” Tanya bu Itta, tidak yakin.

“Iya bu, kemungkinan seperti itu, kami pasti bisa lebih menyukai ibu”

“Terima kasih mbak, ibu sangat senang mendengar ucapan itu” Ucap bu Itta, terharu.

“Iya bu, kami juga berterima kasih karena sudah diajarkan diluar jam sekolah dan juga ibu mau bercerita banyak kepada kami. Kami mau pamit sekalian, sekali lagi terima kasih ya bu” Mutia dan aku hendak berpamitan kepada bu Itta.

“Tetapi masih hujan loh mbak”

“Sudah tidak terlalu deras kok bu, tidak apa-apa”

“Mau pinjam payung ibu?”

“Tidak perlu bu, Terima kasih banyak. Saya dengan Salsa pamit dulu ya bu, Assalamu’alaikum” Ucapku dengan Mutia.

“Waalaikumsalam” Balas beliau.

2 hari setelah itu, kelas kami kembali diajar oleh ibu Itta. Tetapi hari ini berbeda, hari ini cara mengajar bu Itta sangat jauh berbeda. Ibu Itta mengajar dengan lebih ramah dari biasa. Kami semua heran dengan bu Itta. Tetapi tidak denganku dan Mutia. Kejadian kemarin siang sangat merubah pandanganku, Mutia, dan bahkan bu Itta.  Aku sadar bahwa menghormati guru adalah hal yang penting dan wajib bagi kita seorang murid. Mau seperti apapun tipe guru yang kita hadapi, kita harus patuh dan hormat kepada guru. Karena guru adalah orang yang membimbing kita para muridnya, untuk bisa menggapai cita-cita dan masa depan.

Keren kan ceritanya? kesimpulan dari cerita diatas adalah kita harus menghormati dan mematuhi guru karena guru adalah orang yang berjasa dalam kehidupan kita. Setelah membaca cerita diatas yuk baca satu cerpen dibawah ini!

Bukan Hanya Sekedar Bagaimana Menjadi Seorang Guru

Oleh: Cantika Jagad

  Di pagi hari yang cerah, tepatnya pada hari senin di SMA Negeri Nusa Bangsa. Terdengar suara bel sekolah menandakan waktu upacara akan segera dimulai. Para murid SMA Nusa Bangsa segera bergegas menuju ke lapangan dan segera berbaris dengan rapi. Dipertengahan upacara, Pak Erlangga yaitu Kepala Sekolah SMA Negeri Nusa Bangsa memperkenalkan guru baru yang akan mengajar di SMA Negeri Nusa Bangsa.

   Pada saat  memperkenalkan guru baru, semua pandang murid tertuju kepada salah satu guru baru, yaitu Pak Herka. Karena pakaian Pak Herka  tidak rapi, kotor terkena tanah, terdapat beberapa bagian yang robek, dan terdapat beberapa luka di bagian tangan serta kaki. Para murid terkejut dan heran melihat penampilan Pak Herka pada hari itu.

    Ketika memperkenalkan diri, Pak Herka menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya dan mengapa  ia sampai bisa berpenampilan seperti itu. ” Sebelumnya saya memohon maaf kepada Bapak Kepala sekolah, Guru SMA Negeri Nusa Bangsa, serta kepada seluruh murid SMA Negeri Nusa Bangsa. Saya meminta maaf karena hari ini saya berpenampilan seperti ini, Penampilan yang seharusnya tidak pantas saya gunakan di hari yang sangat penting bagi saya.” Ucap Pak Herka dengan perasaan yang sedikit kecewa dan sedih.

   “Hari ini adalah hari yang sangat saya nantikan sebelumnya. Karena akan menjadi guru di sekolah ini dan bertemu dengan para siswa-siswi. Namun, waktu di pertengahan jalan menuju ke sekolah saya mengalami musibah. Ketika saya mengendarai sepeda motor, saya ditabrak dari belakang oleh pengendara sepeda motor lain, dan saya mengalami kecelakaan. Alhamdulillah saya tidak kenapa-kenapa, hanya sedikit luka di lengan dan kaki saya. Kecelakaan yang saya alami tidak menghalangi niat saya untuk pergi ke sekolah dan untuk mengajar para murid di sekolah ini. Bagi saya hari ini adalah hari yang sangat penting dan berharga, oleh karena itu, menurut saya apapun kondisi yang saya alami, jika saya masih mampu untuk menjalankan tugas saya sebagai seorang guru, maka akan saya lakukan dengan sebaik mungkin.” jelas pak herka dengan senyuman di wajahnya.

   Para siswa-siswi terkagum dan terharu oleh semangat dan ketulusan yang diberikan Pak Herka sebagai guru. Mereka tersadar bahwa guru sangatlah berjasa di hidup mereka. Yang sebelumnya beberapa diantara murid masih ada yang meremehkan guru, kini mereka semua telah menyadari bahwa semua guru ingin yang terbaik untuk muridnya, dan bukan hanya sekedar tentang mengajarkan mata pelajaran, memberikan tugas serta soal ujian. Tetapi tentang ketulusan yang diberikan oleh Bapak dan Ibu guru dalam mendidik para muridnya, memberikan ilmu pengetahuan, bagaimana caranya menjadi guru yang baik untuk muridnya, dan menjadi orangtua kedua di sekolah.

Wahh, betapa hebatnya perjuangan seorang guru untuk para muridnya. Maka kalian harus selalu menghargai guru dimanapun kalian berada yaa. Selamat Hari Guru Nasional!

Sekian dari kami, terimakasih^^

“Seni tertinggi guru adalah membangkitkan kegembiraan dalam ekspresi kreatif dan pengetahuan.” – Albert Einstein

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
error: Jangan yaa brotherkuu :)