BeritaLain-lainNew ArticleResensi

Emma dan Daisy

“u know, i think u have a little crush on me.” “eww no!” “yeaa, i think u do.” Seperti
biasa, pagi ini Emma memulai harinya dengan bermalas-malasan. Sembari menunggu kelas
online dimulai, Emma memainkan ponselnya, membuka aplikasi yang sangat candu baginya,
bahkan mungkin bagi hampir semua orang. Lima menit sebelum kelasnya dimulai, Emma
dengan sangat amat terpaksa melangkahkan kakinya keluar kamar untuk sekedar mengambil
minum dan beberapa camilan. Emma sangat bersyukur pelajaran jam pertama hari ini tidak
meninggalkan tugas. Guru yang mengampu pelajaran tersebut hanya memberikan materi,
yang nantinya akan diabaikan lagi oleh Emma. Hingga kelas berakhir pada pukul 12 siang
Emma tidak juga beranjak dari kasurnya.
Tiba-tiba sebuah teriakan merusak kantuk Emma, “Emma!! Tolong bantu Ibu angkat
jemuran yang sudah kering!” Berat hati Emma melakukan hal tersebut. Setelah selesai, mau
tidak mau Emma makan siang karena perutnya sudah lapar. Kalau tidak lapar, mungkin
Emma akan kembali lagi ke kamar dan tidur. Sembari makan, Emma memikirkan film apa
yang akan Ia tonton setelah ini. Emma tersenyum ketika Ia sudah memutuskan akan
menonton film apa. Emma segera mengakhiri makannya dan bergegas menuju kamarnya, tak
lupa membawa makanan ringan dan minuman kesukaannya. Saat membuka pintu kamarnya,
Emma dikejutkan dengan kedatangan temannya, Daisy. “Ada apa?” Tanya Emma kepada
Daisy. “Astaga Emma! Sampai kapan kau membiarkan kamarmu berantakan seperti ini? Aku
yang melihatnya saja merasa sesak.” Daisy tak mengindahkan pertanyaan Emma. Hanya
helaan nafas terdengar dari mulut Emma. “Kenapa si? Bukankah kau sudah terbiasa dengan
kamarku?” Tanya Emma lagi. “Terbiasa, tapi lama-lama muak.” jawab Daisy. “Daisy, aku
tanya sekali lagi, ada apa gerangan kawanku datang kemari?” Tanya Emma yang sudah tidak
sabar dengan Daisy. “Of course karena aku tahu kau membutuhkanku” Jawab Daisy
sekenaknya. Setelah mendengar jawaban Daisy, Emma hanya berlalu melanjutkan
rencananya tadi.
“Serius Emma, sampai kapan kau seperti ini? Miris sekali aku lihatnya.” Tanya Daisy
sambil melihat sekeliling kamar Emma. “Not your business.” Jawab Emma. Daisy hanya
menghela nafas. “Tugas dari Bu Indah sudah selesai belum?” Tanya Daisy lagi. “Tugas yang
mana?” Jawab Emma sambil asik menonton film di layar laptopnya. “Tukan, tugas minggu
lalu Emma!” seru Daisy. “Oh yang itu, masih lama tenggat pengumpulannya, besok saja aku yang mengerjakan.” Jawab Emma dengan sangat santai. “I’m done with you!” Kata Daisy
sambil mengangkat tangannya.

Esoknya di malam hari, Daisy kembali datang menjumpai Emma. “Kau menangis lagi
Emma? Kali ini kenapa lagi ha?!” Tanya Daisy jengah, karena hal seperti ini sudah terjadi
untuk kesekian kalinya. Tetapi Emma tidak menjawab. “Emma, kau tidak boleh seperti ini
terus.” kata Daisy sudah mulai serius. “Kau tidak bisa terus bermalas-malasan. Kau tidak bisa
sepenuhnya menyalahkan pandemi ini untuk semua hal berat yang telah terjadi kepadamu.
Kau tahu kan, Ayah Ibumu bercerai bukan hanya karena Ayahmu tidak lagi bekerja akibat
pandemi ini. Tapi karena memang sudah banyak konflik diantara mereka sejak dulu.
Prestasimu menurun bukan hanya karena orang tuamu becerai, tapi memang karena kau tidak
mau membangun semangatmu kembali. Ayolah Emma, duniamu belum hancur-“. “Apa
maksudmu belum hancur?!” Tanya Emma sedikit membentak kepada Daisy. “Ya belum
hancur, akan hancur jika kau tetap seperti ini.” Jawab Daisy dengan tenang. “Tata kembali
kehidupanmu Emma, kau bisa mulai dari zona nyamanmu, kamarmu ini. Rapikan kamarmu,
lakukan kebiasaan-kebiasaan sehat. Kerjakan tugas-tugasmu, dan usahakan jangan ditunda.
Lakukan juga pekerjaan rumah tanpa disuruh, kasian Ibumu. Harus bekerja dan mengurus
rumah. Aku tahu kau pasti sudah bosan mendengarkan nasihatku itu, tapi aku tidak akan
bosan sampai kau bangkit lagi, Emma.” Daisy tersenyum kepada Emma.

Sebulan berlalu sejak kedatangan Daisy malam itu. Emma benar-benar melakukan
apa yang dikatakan Daisy. “you’ve got those big blue eyes.. drive me crazy, make me
fantasize.. ‘bout you baby..” Mulut Emma tak henti menggumamkan lagu favoritnya sembari
membersihkan tempat tidur. Emma memulai paginya dengan merapikan kamarnya. Emma
keluar kamar untuk membuang sampah, dan menyapa Ibunya yang sedang menyiapkan
sarapan. Dari siaran televisi, diinformasikan bahwa tatanan baru atau new normal akan segera
diterapkan. Emma tersenyum mendengarnya, new nornal baginya adalah kehidupan baru,
dengan malakukan hal-hal produktif yang sangat mengesankan. Hidupnya kembali tertata
rapi.
“Obatnya jangan lupa diminum ya,” kata orang berjas putih di depan Emma. Emma
hanya mengangguk. Emma terdiam sebentar kemudian mengatakan, “Aku sangat senang
ketika aku bisa menuruti nasihatnya, Daisy benar-benar teman yang baik. Tapi aku juga
sangat sedih ketika aku berhasil bangkit karena dorongan dan semangat darinya, Daisy
menghilang tanpa jejak.” “Jadi kau namai dia Daisy?” tanya orang berjas putih di depan

Emma itu. Emma kembali mengangguk. “Tidak apa-apa Daisy menghilang, yang penting kau
sekarang kembali pulih. Kau kan masih punya banyak teman yang sebenarnya yang akan
selalu mendengarkanmu.” Jawab orang dengan jas putih tersebut. Setelah Emma keluar
ruangan, orang dengan jas putih itu kembali berbicara dengan Ibu Emma. “Dia merasa sangat
kesepian Bu, sering-seringlah ajak dia bicara, Emma butuh teman berbagi cerita dan derita.
Jangan sampai Emma menciptakan Daisy-Daisy yang lain. Beruntung Daisy kali ini
memberikan pengaruh baik, karena memang itu yang dibutuhkan Emma saat ini.” Ibu Emma
mengangguk paham dengan muka yang sendu.

Penulis : Nisa Nur Azizah

Ilustrator : M.Hafiz

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
error: Jangan yaa brotherkuu :)