BeritaNew Article

Chefajar (chef pelajar)

Hallo seveners, kali ini ada cerpen menarik nih dari salah satu siswi di SMAN 7 Yogyakarta,silahkan simak ceritanya dibawah ini yaaaa!

Semenjak tahun 2020 datang, hidup Raya monoton. Dari pagi hingga malam, tak ada
kegiatan yang berbeda-beda. Ia merasa hidupnya seperti serial drama yang diulang berkali-
kali. Seminggu rasanya memang cepat, tapi akan terasa bosan dan lama jika hanya itu-itu
saja. Ia merebahkan tubuhnya.
“Huhh! Sampai kapan di rumah terus?” Raya memasang wajah muram. “Karena covid pergi
kemana-kemana dibatasi, belajar di rumah, ibadah di rumah. Apa-apa di rumah. Gimana gak
bosan? Mana uang jajan gak dijatah karena gak sekolah. Kan gak adil!” gerutunya.
“Raya,” panggil kakaknya, Rere. “tolong beliin gula satu kilo, ya?” pinta Rere sambil
menyodorkan uang pada Raya.
“Boleh, tapi uang sisanya buat Raya!” Raya memberi syarat.
“Tapi kan itu uang kakak, Ray.” Rere tampak tak ikhlas.
“Dua ribu aja, kok. Lagian udah lama, nih Raya gak dapet uang jajan dari ayah.” Raya
melakukan pembelaan.
Rere berdecih kesal. “Yaudah, cepet beliin.”
Mendengar hal tersebut Raya otomatis senang dan mengambil uang itu dari kakaknya.
Bagaimana tidak, sudah lama dia tak mendapat uang jajan dan sudah lama juga dia hibernasi
di dalam rumah. Maka dari itu saat ada dua kesempatan emas, Raya pasti dengan sigap akan
mengambilnya.
“Bu Inah, gulanya sekilo, ya.” Ucapnya saat sudah sampai di warung kecil dekat rumahnya.
“Eh Raya? Lama banget gak lihat kamu keluar.” Bu Inah tersenyum saat melihat pembeli
langganannya.
“Iya nih, Bu. Di rumah terus.” Kata Raya sambil melihat-lihat jajanan yang dijual di warung
Bu Inah. “Ini Bu Inah yang bikin makanannya ya?” Raya menunjuk toples-toples berisi
makanan manis.

“Bukan, itu mah titipan. Sekarang banyak banget produk makanan yang dititipin di warung
ibu. Maklum, semenjak pandemi orang-orang ganti profesi jadi chef.” Kata Bu Inah sambil
tertawa.
“Wah, kalau gitu Raya mau beli kue yang coklat satu. Sama gula jadinya berapa, Bu?” tanya
Raya.
“Empat belas.”
Selepas dari warung, Raya bergegas pulang. Mulutnya penuh dengan kue coklat, dia
menghabiskannya di jalan. Karena kalau di rumah, bisa-bisa kue itu di rebut Raka, adikknya.
Sampai di rumah, Raya memberi plastik itu pada Rere. Ia bertanya-tanya, untuk apa semua
bahan yang telah disiapkan kakaknya di dapur ini.
“Tepung, coklat, sama gulanya mau dibuat apa, Kak?” Raya akhirnya bertanya.
“Kakak mau coba bikin kue kering. Kasian si Raka, katanya gak ada makanan di rumah.”
Jawab kakakya secara detail.
“Emangnya Kakak bisa?” Raya meragukan kakakya. Bukan apa-apa, hanya saja kakaknya
jarang sekali membuat kue atau roti-rotian. Paling tidak camilan yang kakaknya buat hanya
bakwan atau pisang goreng.
“Bisa dong! Enak aja! Sekarang meskipun kita di rumah, itu gak jadi penghalang buat kita
berinofasi, Ray. Kan udah ada internet yang memudahkan kita dalam ngerjain sesuatu.” Jelas
Rere.
“Oh jadi kak Rere tahu resep buat kue kering dari internet, ya? Iya kan?” Raya akhirnya bisa
menebak.
“Seratus buat kamu. Udah sini daripada bosen, mending bantuin aku buat kue.”
Kurang lebih setengah jam, mereka menghabiskan waktu di dapur. Raya yang baru
pertama kalinya mencoba memasak tampak amatir dan banyak bertanya pada kakaknya.
“Nih, kamu cicipin yang toping coklat.” Rere menyuapi kue berbentuk lingkaran ke dalam
mulut Raya.
“Emmm.” Raya menikmati kue buatannya dan kakaknya.

“Gimana? Enak gak?” tanya Rere ingin tahu.
Raya mengangkat dua ibu jarinya. “Enak banget, Kak. Rasanya kaya kue coklat yang Raya
beli di warung Bu Inah!”
“Kue coklat di warung Bu Inah?” Kakaknya bertanya-tanya.
“Iya, sekarang itu orang-orang banyak banget yang titipin makanan di warung-warung.” Raya
menjelaskan.
Tiba-tiba Rere menjentikkan jari. “Aku punya ide.”

“Kak, ada pesenan dua nih dari temen aku. Yang satu rasa coklat, yang satu vanilla!” teriak
Raya pada kakaknya yang berada di dapur.
“Okee.” Sahut Rere.
“Ada lagi, nih. Dua coklat, satu strawberry!” Raya kembali berteriak setelah mengecek
ponselnya.
Sebulan sudah Raya dan Rere mulai memasarkan produk kue buatannya melalui
media sosial. Sejalan dengan kata Bu Inah, mereka berdua menjadi chef dalam sekejap.
Namuntetap saja tak melupakan jiwa mereka sebagai pelajar!
Awalnya memang tidak ada pelanggan yang datang. Namun karena kerja keras
mereka berdua, dan keuletan mereka, kini mereka tidak usah repot-repot dalam mencari
pelanggan. Tapi pelangganlah yang akan datang sendiri.
Dari sini Raya belajar, di rumah saja bukan berarti kamu dibatasi untuk melihat dunia
luar. Justru dengan di rumah, kamu bisa lebih fokus untuk menciptakan sesuatu yang kreatif
dan inovatif yang dapat membuat kamu menjadi pribadi yang memiliki banyak pengalaman.
Disamping Raya mendapatkan pengalaman seru, Raya juga mendapat bonus, yaitu dalam
seminggu, ia mendapatkan kembali uang jajannya yang ia dapat dari uang hasil produk
tersebut

Author : Alivia Intania

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Jangan yaa brotherkuu :)