sumber: Youtube.com

Nah, ayo lanjut. Sampai mana terakhir kali? Ada monster yang mengejar kami? Tentu saja.

Bagaimana rasanya? Welp, seru dan lucu.

Bercanda ke siapa aku? Tidak seru maupun lucu sama sekali. Aku benar-benar ketakutan saat itu. Bahkan aku sempat terjatuh-jatuh saat menyusul teman-temanku. Aku bisa mendengarkan suara nafas monster tersebut di belakangku, meraih-raih untuk membunuh ku.

“MARKAS BESAR! KAMI MEMOHON BANTUAN! BAHAYA MENDEKAT! SESUATU MENGEJAR KAMI!” Teriak kapten berulang kali di radio. Bukan misi menyusup dan hancurkan lagi ya?

Namun satu-satunya respon dari markas adalah: “Uhh, negatif. Kalian sendirian. Markas keluar.”

Aku bersumpah serapah sekeras mungkin. Tak peduli meski itu tidak membantu sama sekali. Salah satu temanku ditarik oleh sesuatu dari bawah. Aku hanya sempat mendengar teriakannya yang beberapa detik kemudian menghilang oleh tegangnya keadaan.

Setelah beberapa saat lari dari kematian, aku menabrak kapten.

“Hati-hati prajurit.” Katanya.

Semuanya telah berhenti berlari. Kulihat ke belakang dan manusia raksasa itu telah menghilang. Secepat itukah?

Di depan kami berdiri sebuah gudang besar, seperti terakhir kali kami diperlihatkan foto gudang yang dimaksudkan. Gudang tersebut terbuat dari kayu, namun terlihat kokoh. Dua pintu besar menjaga jalan masuk ke dalam, dan tidak ada ventilasi.

Tanpa pikir panjang aku langsung membuka pintunya yang lumayan berat. Tak ada yang protes, bahkan mereka langsung mengikutiku. Semuanya bertujuan sama waktu itu: hancurkan gudang, keluar dari sana.

Setelah pintu terbuka, kami langsung menerobos masuk. Semua orang langsung menghidupkan senternya masing-masing. Gudang itu adalah gudang terpengap yang pernah ku masuki. Dan bahkan gudang itu tidak ada isinya sama sekali. Apa yang dipikirkan markas besar? Meledakkan gudang kosong dengan pengorbanan empat prajurit lainnya?

Sebelum ada yang sempat berkata sesuatu, suara orang tercekik muncul dibelakang ku. Reflex langsung membuatku melihat ke belakang. Itu adalah rekanku yang dicekik… tali? Dia tertarik ke atas bersama tali tersebut. Umpatan sekali lagi memenuhi mulut rekan-rekanku.

Kami langsung mengarahkan senter ke atas, dan sebuah penemuan mengejutkan bagi kami. Beberapa tali untuk gantung diri menggantung dari langit-langit. Dan tidak semua tali itu kosong, lima tali sudah ditinggali oleh lima tubuh. Ku perhatikan satu-persatu dan ternyata mereka adalah rekanku yang tewas tadi. Bahkan Ray yang berkepala juga ada disana. Ku hitung tali yang tersisa, lima. Sesuai dengan jumlah kami.

Didasarkan pada fakta bahwa ada lima mayat di ruangan itu, tak ada bau busuk sedikitpun. Perlu ku akui itu cukup mengganggu.

Tali-tali kembali bergerak, hendak merenggut nyawa lagi. Mereka bergerak seperti cambuk. Cepat, gesit, dan pasti menyakitkan. Tapi kali ini kami lumayan siap. Satu meter sebelum tali gantung menjangkau ku, ku keluarkan pedangku dari sakunya dan ku potong tali itu.

Kenapa? Pedang? Itu normal untuk orang seperti ku kan?

Hanya karena itu tahun ’87 bukan berarti kami tidak boleh menggunakan pedang. Sebagian besar orang-orang sejenis ku akan lebih suka pedang ketimbang senjata api. Bukan karena terlihat keren. Tapi pedang sangat ampuh untuk membunuh monster.

Sementara kami sibuk mengamputasi dan menggorok tali-tali itu, aku sambil berpikir, mana mungkin ada tali bergerak-gerak sendiri? Iya kan? Pasti ada yang menggerakkan. Sesaat setelah itu, pertanyaan ku terjawab.

“Sedang bersenang-senang rupanya.” Kata suara seorang perempuan.

Hei, catatan ini terlalu panjang juga. Jadi…kau tahu kan?

Penulis : Kau juga tidak akan menemukannya disini bung.