Tauhid hakiki ini berikut seluruh tingkatannya dan dengan bentuknya yang sempurna telah ditegaskan, diinformasikan, diajarkan, dan disampaikan oleh Muhammad ?. Karena itu, risalahnya menjadi sesuatu yang pasti dan kuat seperti kuatnya tauhid itu sendiri. Karena persoalan tauhid merupakan hakikat paling agung dialam wujud ini, sementara Muhammad ? bertugas mengajarkan tauhid tersebut beserta seluruh hakikatnya, maka seluruh dalil yang membuktikan tauhid pada waktu yang sama juga membuktikan kebenaran risalah, kenabian, dan dakwah beliau. Risalah agung semacam ini yang berisi ribuan hakikat kebenaran yang luhur serta menyingkap dan mengajarkan hakikat tauhid, tentu saja merupakan risalah yang menjadi tuntunan tauhid tersebut.Siapa gerangan selain Muhammad ?yang telah mengemban amanah dan menyampaikan risalah dalam bentuk yang paling sempurna?

Kami akan menyebutkan tiga contoh sebagai dalil yang membuktikan keagungan pribadi Nabi ?,yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi, serta yang menjelaskan keberadaannya sebagai lentera penerang dan mentari seluruh alam semesta.

Dalil Pertama

Pahala seluruh amal kebajikan yang diperoleh seluruh umat sepanjang masa juga tertulis secara sama persis dalam lembaran kebajikan Nabi ?. Sebab, beliau merupakan perantara dalam meraih semua pahala yang diraih umatnya hingga hari kiamat. Ada kaidah yang berbunyi:

“Perantara sama seperti pelaku.”

Perhatikan hal ini dengan baik, lalu renungkan kedudukan agung yang layak beliau dapatkan sebagai hasil dari salawat yang setiap hari diucapkan umatnya. Dari situ engkau akan mengetahui derajatnya yang tinggi sekaligus memahami bahwa pribadinya ibarat mentari alam dan lentera penerang seluruh makhluk.

Dalil Kedua

Benih pohon Islam yang subur berikut tempat tumbuh, kehidupan, dan sumbernya merupakan hakikat dari substansi pribadi Muhammad yang memiliki fitrah mulia dan tabiat sempurna.

Perhatikan hal ini, lalu renungkan ketinggian kedudukan Rasul ? yang bersumber dari sensitifitasnya yang sempurna terhadap seluruh esensi ibadah, zikir, dan ungkapannya yang mulia, yang kesemuanya itu mencermikan spirit dan hakikat Islam. Dengan begitu, engkau akan mengetahui ketinggan derajat kewalian penghambaannya yang istimewa , yaitu derajat habibiyah (kekasih Allah). Pahamilah puncak ketinggian derajatnya.

Suatu hari, ketika sedang bersujud dalam shalat, Allah membukakan untukku beberapa makna dan kilau dari kalimat “Subhana Rabbiyal A’la”(Mahasuci Tuhanku Yang Maha Tinggi) yang  kira-kira seperti pemahaman seluruh sahabat terhadap kalimat suci itu. Tampak dengan jelas bagiku bahwa ia lebih baik daripada ibadah satu bulan. Dari situlah aku menyadari kedudukan agung dan derajat mulia yang didapat oleh semua sahabat.

Ya, limpahan cahaya yang bersumber dari kalimat–kalimat suci di awal kemunculan Islam memiliki keistimewaan khusus. Ia juga begitu lembut,  segar, dan nikmat namun lama-kelamaan seiring dengan perjalanan waktu ia bertambah redup dan tertutup oleh hijab kelalaian.

Sekarang, renugkan kedudukan Rasul ? yang telah menerima dan menghirup kalam suci dari sumbernya yang melekat padanya. Berdasarkan rahasia ini, beliau mendapatkan limpahan cahaya dari sebuah tasbihnya sebanyak ibadah seseorang selama satu tahun.

Bandingkan hal tersebut. Dari situ engkau akan mengetahui betapa Rasul ? telah mencapai derajat kesempurnaan yang tak terhingga.

Dalil Ketiga   

Manusia mencerminkan maksud Ilahi yang paling agung dialam ini. Ia adalah makhluk yang disiapkan untuk memahami pesan ilahi. Lalu diantara makhluk-Nya yang mulia, Allah memilih manusia paling mulia, paling baik, dan paling agung lewat amal  dan jejaknya yang sempurna untuk menjadi objek pesan Ilahi tersebut atas nama seluruh manusia, bahkan atas nama seluruh manusia, bahkan atas nama seluruh alam semesta. Tentu saja Allah ? , Yang Maha Esa dan Agung yang telah menyiapkan Rasul-Nya yang tercinta untuk kedudukan ini, telah memberikan kepada beliau berbagai cahaya dan kesempurnaan yang tak terhingga.

Begitulah, dengan tiga dalil di atas dan dalil-dalil lainnya yang masih banyak kita menjadi yakin bahwa sosok pribadi Rasul ? merupakan mentari cemerlang dan lentera penerang yang menyinari alam ini. Selain itu, pribadi beliau merupakan ayat agung dari Qur’an alam ini, nama agung dari al-Furqon serta cermin yang bening bagi manifestasi cahaya nama Allah al-Fard ? .