sumber: Pinterest.com

Terima kasih kepada temanku yang sudah mengirimkan ini untuk dibaca orang. Welp, aku tidak akan menyebutkan nama asliku agar kalian tidak mencariku. Jadi… panggil saja Hel. Kebanyakan teman-temanku memanggilku begitu.

Hei, mau mendengar cerita? Judulnya adalah Jangan Bunuh Diri di Gudang. Apa? Terdengar ‘gelap’? Welp, dengarkan dulu saja.

Ini terjadi dulu sekali, sewaktu itu aku masih menjadi prajurit rendahan di Resimen 22. Kami diperintahkan untuk menghancurkan sebuah gudang di Arizona secara diam-diam (AKU TIDAK AKAN MENYEBUT LOKASI TEPATNYA). Tapi kapten kami khawatir kalau itu akan mempengaruhi penduduk sekitar. Oh iya, nama kapten kami adalah Kapten… Geek. Itu jelas bukan nama aslinya.

Jadi, karena Ia begitu baik, dia memerintahkan kami untuk mengecek gudang terlebih dahulu dan mengevakuasi warga.

Singkat cerita, kami berada di lokasi. Kami berada di palang pintu masuk menuju desa dimana gudang tersebut berada. Desa itu tenang sekali, namun ketenangannya tidak natural. Mungkinkah jam malam?

“Hel, jangan sampai dilempar spatula lagi, bung.” Kata Ray sambil terkekeh. Ray adalah teman dekatku saat itu. Dan lagi, itu bukan nama aslinya.

“Diam! Jarak gudang itu setengah klik dari sini, dan kita akan berjalan kesana.” Kata kapten.

Ngomong-omong, jumlah orang yang dikirim saat itu ada 10 orang termasuk aku.

Lalu kami berjalan dengan perlahan melalui gang-gang gelap di belakang rumah-rumah. Ini hanya beberapa meter pikirku. Namun aku tak tahu waktu itu, masuk desa tersebut dan kau akan kesulitan keluar. Huh, klise ya?

Setelah berjalan tenang beberapa saat, ada seseorang yang menendang-nendang kakiku. Aku melihat bawah dan ternyata itu adalah rekanku, Ray, bersuara seperti orang tercekik. Ia terus menendang-nendang seperti anak kecil yang ingin dibelikan mainan tapi orang tuanya menolaknya. Aku langsung turun tangan untuk menanganinya dan berkata: “Hei, kawan-kawan, ada apa dengan Ray?”

Kapten pun ikut turun dan mencoba untuk menahan Ray, sementara teman-teman se-timku mengawasi keadaan sekitar. Karena keadaan terlalu gelap, aku tak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Setelah beberapa saat, Ia berhenti menendang-nendang. Akhirnya aku nekad untuk menampar Ray.

Aku mencoba untuk menamparnya, namun aku hanya meraih-raih di udara.

Tiba-tiba Kapten menghidupkan senter untuk pencahayaan sementara dan mengarahkannya ke Ray. Lalu–welp, itu masih Ray tapi… tanpa kepala.

Aku terloncat dan menabrak tumpukan kardus di belakangku. Kapten dan beberapa rekanku yang lain mengumpat.

“Sial, apa yang terjadi padanya?” tanya Kapten.

Jelas, tak ada yang tahu saat itu. Yang pasti Ray sudah tiada. Tapi begitulah duniaku, dimana orang mati tanpa kabar. Dimana tak akan ada yang mengingatmu. Kalian pikir dunia ini menyenangkan? Lihat yang terjadi pada Ray, bung. Begitulah kenyataan.

Kami tak sempat berbelasungkawa atas kematiannya, karena tiba-tiba:

“Kapten! Ada sesuatu disana.” Bisik salah seorang rekanku, menunjuk ke jalan yang baru saja kami lewati.

Disana berdiri manusia setinggi sekitar 15 kaki. Aku tak dapat melihat detailnya, yang jelas makhluk itu sangat mengerikan. Kau tak ingin dengar deskripsiku.

“LARI!” Teriak kapten. Namun aku beku, dua rekanku yang dibelakang langsung di tendang hanya menggunakan satu kakinya yang luar biasa besar. Beruntungnya kapten langsung menarik kerahku untuk mengikutinya.

Oh iya, catatan ini sudah terlalu panjang. Jadi akan kulanjut di catatan lain.

Penulis : Apa? Kau berharap namaku ada disini?