Hai Seveners! Gabut dan bosen? Ayo baca cerita bersambung yang dihadirkan oleh Koran Seveners setiap minggunya. Selain itu masih banyak lagi lho bahan bacaan yang menarik dan seru. Mari viralkan budaya literasi di Indonesia!

sumber: today.line.me

Di dalam hidup aku selalu mementingkan tiga sifat alami kemanusiaan, ego, ambisi, dan arogan. Aku dikenal sebagai manusia berdarah dingin oleh semua orang, meski mereka tidak pernah mengatakannya tetapi naluriku dapat membaca pikiran mereka dari cara mereka bicara dan cara mereka menatapku. Seolah-olah aku adalah manusia terkejam sedunia. Aku tidak pernah membunuh, mencuri, atau melakukan tindakan kriminal lainnya. Aku hanya ingin hidupku bahagia dan sukses.

Kini aku berada di pinggir jalan, mencermati seseorang berhati baik yang sangat bertolak belakang dengan diriku. Dia adalah Liora Steve Aleyson, teman sekelasku. Hari ini aku mengalami peristiwa kacau yang terjadi setiap hari. Teman-temanku tidak mendiamkanku seperti kebanyakan orang yang melihatku sebelah mata, tetapi justru orang yang melihatku sebelah mata adalah orang yang baik karena orang yang mengenalku dengan sangat baik adalah orang yang paling membenciku. Dan sialnya teman-teman di kelasku mengenalku dengan sangat baik, mengenal sifat ego, ambisi, dan aroganku yang justru kuambil sebagai cara mempertahankan hidup dan ketenaran yang baik. Lucunya orang yang mengenalku dengan baik itu tidak pernah memberi nasehat atau masukan apapun padaku tetapi malah menjadikanku bahan ejekan. Kelihatannya mereka lebih buruk dari pada aku, maka dari itu setiap kali mereka menghinaku aku tidak pernah diam atau menghajar mereka, aku hanya berkata, “Jika kalian mengataiku orang murahan maka kalian adalah sampah masyarakat.”

“Ray! Ada apa dengan dirimu ini? Jangan melamun terus, nanti kemasukan iblis jahat lho hahaha”, canda Liora. Ya, orang yang kuanggap baik itu. Dia seseorang yang paling peduli denganku meski sangat mengenalku dengan baik. Setelah beberapa kejadian di sekolah hari ini, seperti biasa Liora menghiburku dengan cara mengajakku jalan-jalan di sebuah sungai yang sering dikunjungi oleh turis. Dia tidak pernah mengungkit sifat jelek yang kuambil, tetapi suatu hari dia pernah bertanya, “Apakah kamu tahu kalau jalan yang kau ambil itu salah Ray? Apa kamu pernah berpikir untuk menjadi manusia yang lebih baik dari ini? Manusia yang peduli pada lingkungan dan masyarakat?”. Bukannya menjawab aku malah memalingkan wajah, hari itu aku merasa Liora bukan malaikat tetapi manusia yang mengejekku dengan halus. Sebenarnya aku tahu aku mengambil jalan yang salah, tentu saja aku sadar apa yang aku lakukan itu bukan sesuatu yang baik. Tetapi ketika aku mencoba berubah, orang-orang disekitarku malah semakin menatapku aneh. Ahhhh biarkan saja, aku sudah lelah.

“Liora apa kamu mau makan? Aku akan mentraktirmu.”

“Tentu.”

Di perjalanan menuju rumah makan, aku dan Liora hanya diam memerhatikan jalanan yang remang-remang. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 petang, kami berjalan dengan sangat cepat agar cepat sampai di rumah makan. Dari tadi aku mendengar suara perut Liora, aku tidak ingin Liora kelaparan seperti ini.

Sesampainya di rumah makan, aku berjalan menuju meja yang kosong dekat dengan tembok kaca. Seorang pramusaji menghampiri kami untuk menanyakan pesanan apa yang ingin kami makan.

“Makannya mie ayam dan bakso, minumnya es teh dan es jeruk.” kataku.

“Baik, akan segera kami siapkan.”

Ya, kami memang sering mampir di rumah makan ini, bahkan hampir setiap hari. Aku bahkan hafal dengan pesanan Liora, semangkuk bakso dan es jeruk. Kemudian terdengar suara lonceng pintu pertanda ada pengunjung datang. Kulihat siapa pengunjung itu, oh sial dia Ezra dan teman-temannya. Ezra adalah laki-laki yang dari dulu mengincar Liora, tetapi Liora selalu menolak karena dia tidak ingin memiliki kekasih dulu karena bagaimanapun juga belajar lebih penting dari apapun. Sama seperti ku, menurutku belajar di atas segalanya namun sikap Liora tidak acuh sepertiku. Menurutku, aku dan Liora sama dan saling melengkapi.

Ezra dan teman-temannya menghampiri meja yang kami tempati. Kurasa dia akan mencari gara-gara sekarang. Aku tahu dia sangat membenciku karena Liora dekat denganku. Satu tarikan di kerah membuatku berdiri tegak di hadapannya. Kemudian…

BERSAMBUNG…

Penulis : Risky K. Dewi