Apakah pembaca mengenali istilah “Mesti Digugu lan Ditiru”? Bagi pembaca yang tinggal di Jawa, khususnya Jawa Tengah atau Daerah Istimewa Yogyakarta, tentunya istilah tersebut cukup dikenal di masyarakat. Ya, “mesti digugu lan ditiru” merupakan tembung pepindhan dari “Guru” (mesti diguGU lan ditiRU). Kalau membahas mengenai profesi ini, tentu akan terbayang di pikiran pembaca tentang sosok yang telah mengajar kita saat masih usia sekolah.
Dari tembung pepindhan di atas, sudah jelas bukan makna dari seorang guru? Memberikan pelajaran dan pemahaman agar murid – muridnya dapat menjadi cerdas dan terdidik. Dengan pendidikan itulah murid diharapkan dapat meneladani sikap seorang guru dan akhirnya murid itu dapat diteladani di lingkungan masyarakat kapanpun dan di manapun. Setiap tanggal 25 November diperingati sebuah hari yang didedikasikan kepada guru. Tentu kita semua mengenalinya dengan “Hari Guru Nasional”.
Lantas bagaimana Hari Guru Nasional ini bisa ada? Pegiat pendidikan di Indonesia telah mendirikan organisasi guru bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada tahun 1912. Anggotanya berasal dari kalangan Kepala Sekolah, Guru Desa, Guru Bantu, dan Penilik Sekolah yang bekerja di sekolah – sekolah yang ada di Indonesia. Pada tahun 1932, nama PGHB diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Belanda tidak menyukai pengubahan kata “Indonesia”, sebab “Indonesia” mencerminkan persatuan dan nasionalisme rakyat Indonesia yang dapat mengancam kedudukan Belanda. Pada zaman pendudukan Jepang, segala organisasi dilarang dan sekolah ditutup, sehingga PGI pun tak mampu lagi melakukan aktivitasnya.
Setelah Ir. Soekarno dan Moh. Hatta mengumandangkan proklamasi 17 Agustus 1945, semangat kemerdekaan pun bangkit kembali dan turut menjalar serta menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia yang diselenggarakan tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Dalam kongres tersebut, disepakati bahwa nama PGI diubah menjadi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang namanya tetap kokoh sampai sekarang. PGRI secara resmi berdiri tanggal 25 November 1945. Maka dari itu, 25 November diabadikan sebagai Hari Guru Nasional, hasil perjuangan dan kebersamaan para guru terdahulu di Indonesia.
Banyak murid yang memiliki cara – cara unik dalam rangka menyambut Hari Guru ini. Ada yang sekadar memberi ucapan kepada guru, silahturahmi ke kediaman sang guru, atau memberi hadiah berupa bunga, pakaian, dan alat ibadah. Ini menunjukkan bagaimana murid menyayangi orangtua mereka di sekolah.
SMAN 7 Yogyakarta menyambut Hari Guru dengan cara unik, beda, dan istimewa. Perayaan Hari Guru ini diselenggarakan tanggal 26 November 2015 pada istirahat pertama, tepatnya pukul 09.30 WIB, dirayakan oleh seluruh kelas dari kelas X sampai XII. Beberapa hari sebelum hari H, ada beberapa anggota OSIS yang membagi – bagikan kertas warna – warni kepada masing – masing siswa agar siswa menuliskan isi hati, kesan, pesan, kritik, dan saran kepada guru – guru di SMAN 7 Yogyakarta. Pembagian kertas ini dilakukan sepulang sekolah. Nantinya kertas – kertas murid ini akan ditempel pada backdrop hitam besar yang akan dibentangkan di Bangsal Wiyata Mandala.
Dalam perayaan, setiap kelas mempersembahkan minimal 5 batang bunga mawar segar dengan warna bebas. Bunga – bunga mawar tersebut dibungkus dalam plastik dan diberi kartu ucapan untuk guru. Para siswa juga boleh menghias karangan bunga mawar tersebut agar nampak lebih elok dan indah dalam pandangan.
Saat istirahat pertama (26/11), seluruh siswa dikumpulkan di lapangan antara Gedung Induk dan Bangsal Wiyata Mandala, sedangkan guru – guru berkumpul di bangsal. Setiap kelas memilih perwakilan siswa untuk mempersembahkan mawar kepada guru. Mawar tersebut diberikan kepada wali kelas masing – masing dan guru lain yang menjadi super star mereka. Tidak hanya memberikan karangan mawar segar, namun siswa juga menyanyikan lagu Terimakasih Guru bersamaan. Lagu dinyanyikan bersama setelah seluruh siswa mendapat aba – aba dari ketua OSIS SMAN 7 Yogyakarta periode 2015/2016, Aditya Williamshah Pahlevi. Acara tersebut berlangsung lancar, meriah dan mengharukan. Setelah semua guru mendapat bunga, para siswa bersalaman dengan para guru di Bangsal Wiyata Mandala.
Itulah cara siswa – siswi SMAN 7 Yogyakarta merayakan istimewanya Hari Guru Nasional. Menarik, bukan? Tentunya para pembaca pun punya cara masing – masing dalam mempersembahkan cinta dan kasih sayang terhadap orangtua di sekolah, seorang guru. Mari bersama persembahkan hormat kita kepada mereka!

 

 

 

(Madda Asyafa Putra)