Acara-acara yang mengusung tema nostalgia itu ngebosenin? Eits, nanti dulu, GPBT 2014 bernostalgia dengan cara yang berbeda.

Kalau dengar kata “nostalgia”, biasanya yang terlintas soal acara-acara yang lebih banyak berkoar tentang ajakan melestarikan budaya biasa, hanya buat anak-anak yang melek budaya, dan monoton.

Ternyata tidak selalu begitu, kok.

Karena acara monoton seperti itu tidak berlaku di Gempita Pesona Bhakti Taruna 2014 pada 26 Juni 2014 lalu, yaitu acara pentas seni yang diadakan untuk memperingati HUT SMAN 7 Yogyakarta. Hebatnya, pentas seni ini mampu memberikan suasanya klasik yang membuat pengunjung betah berlama-lama di acara yang bertempat di kampus SMAN 7 Yogyakarta ini.

70-an DALAM RUANGAN

GPBT ini sukses digelar untuk yang kesekian kalinya karena merupakan acara tahunan yang rutin diadakan oleh Smaven—(sebutan lain SMAN 7 Yogyakarta, RED). GPBT kali ini tampil berbeda. Panitia yang beranggotakan gabungan kelas X dan kelas XI sebanyak 110 orang ini mengangkat tema pensi The Old Lane.

“Kita ingin kalau GPBT kali ini para pengunjung bisa mendadak bernostalgia dengan ruangan dan instalasi yang kita pasang. Kalau pengunjung suka dengan suasana nostalgianya, pasti akan tergerak sendiri kemauannya untuk melestarikan warisan budaya,” ungkap Dita sang ketua panitia GPBT 2014.

Pensi ini dimeriahkan oleh artis-artis asli Smaven yang tergabung dalam Club Seni Seveners (CSS). Beberapa di antaranya adalah Seveners Band, Theater Seveners, Club Beatbox Seveners, Pantomim, tari tradisional, dan masih banyak lagi.

Supaya semakin afdol nostalgianya, panitia sampai mendekor venue acara dengan barang-barang antik khas zaman 70-an. Panitia juga mendandani dirinya sendiri dengan style khas 70-an. Setelan ala Elvis, safari milik sesepuh, dan celana-celana cutbray membuat suasana makin lawas.

“Kita sampai buat instalasi-instalasi bernuansa vintage. Contohnya kafe klasik yang isinya barang-barang antik, serta kotak pos yang khas itu. Kita dekorasi sampai gantung pesawat kertas dan lampion-lampion di atas. Yang bikin suasana nostalgianya itu makin kental dengan adanya mobil klasik Volkswagen yang terparkir di depan instalasi kafe,” beber Dita.

Wall of Fame yang menjadi photobooth merupakan tempat yang krusial di GPBT karena di sanalah spot yang paling banyak diserbu pengunjung. Untuk difoto, untuk selfie pula.

Konsep desain ruangan yang klasik dan unik ternyata berbuah manis. Tidak sia-sia panitia kerja keras lama untuk mendekor. Soalnya pengunjung betah berlama-lama di ruangan seperti kafe klasik yang di dalamnya ada barang antik macam kursi kayu, meja kayu, telepon lawas, radio butut, lemari kayu, dan masih banyak lagi.

“GPBT kali ini tambah keren. Lucu aja konsep ruangan acara dengan pernak-perniknya. Aku paling suka waktu nonton Seveners Band yang vokalisnya kayak Elvis itu. Nggak rugi deh luangin waktu ke GPBT,” tutur Firda, alumni Smaven.

“Paling seneng sama konsep lightning-nya yang pas. Nggak pernah telat dan bikin aku pengen nonton GPBT lagi tahun depan,” ujar Bayu pengunjung asal MA Muallimin.

Untuk acara yang hanya menitikberatkan pada imbauan melestarikan budaya dan mencintai karya-karya dalam negeri itu biasa. Tapi GPBT 2014 mengajak pengunjung untuk melakukan hal tersebut secara tersirat dengan pentas seni yang mengusung tema tertentu seperti ini. Karena budaya sejatinya menjadi lebih indah ketika kita masih dapat melihatnya pada masa kini dan menikmatinya dengan anak cucu kelak.