Indonesia kini sangat konsisten. Konsisten korupsinya, konsisten main kambing hitamnya, konsisten rusuhnya, konsisten malasnya, konsisten berebut uang, dan konsisten  lain yang membuat kita hidup seperti sekarang. Seolah semua orang sama konsistennya seperti Indonesia, tidak ada yang cukup teladan untuk dijadikan teladan.

Dahlan Iskan, orang yang ‘tidak konsisten’ itu. Lahir dalam keluarga yang serba kekurangan membuat beliau ingin merubah keadaan. Menempuh pendidikan dasar dan menengah di salah satu pondok pesantren di Jawa Timur dan melanjutkan kuliah di UIN. Dahlan Iskan menjadi alumni sebelum waktunya (DO, red) dan memilih jalan sebagai jurnalis di Tempo. Tokoh yang worka holic ini menunjukan etos kerja dan inovasi beliau di Tempo lalu pindah ke Jawa Pos yang saat itu hampir mati dan berhasil membentuk Jawa Pos News Network (anak perusahaan Jawa Pos di kota-kota) dan menjadikan Jawa Pos koran terbaik dunia tahun 2011.

Dahlan Iskan sudah mencangkok hatinya karena penyakit menderita livernya. Hal itu membuat beliau mundur dari pimpinan utama Jawa Pos. Karena kemampuannya pada tahun 2009 ia dimintai tolong oleh Presiden SBY untuk menjadi Dirut PLN, dengan berat hati ia menerima dan menjadikan listrik negara seperti sekarang. Penjuru Indonesiapun ditengoknya demi lampu untuk menerangi setiap rumah. Dia rela turun ke lapangan sendiri untuk survey lapangan. Tetap terjun ke rakyat untuk mendengarkan keluh kesah tentang PLN.

Beberapa minggu lalu beliau dilantik menjadi menteri BUMN ke-6 menggantikan Mustafa Abubakar. Dalam pelantikan menteripun Dahlan Iskan tetap menggunakan sepatu kets ciri khasnya dan tidak menerima fasilitas yang disediakan. Bahkan ia menolak ketika sopir yang disediakan untuknya hendak mengantarnya. Rendah hati, tanpa pamrih, dan sederhana, itulah sosok Dahlan Iskan.