Dua puluh delapan tahun SMA 7 mendidik Yogyakarta, masih temuda diantara yang lain, masih berbeda diantara yang lain. Berbeda, banyak fasilitas, sedikit kegunaan. Dalam 3 tahun masa studi di SMA 7, hanya beberapa bulan Perpustakaan Digital dibuka. Hanya beberapa kali event besar digelar, hanya beberapa, sedikit beberapa prestasi yang bisa dibuka. Piala di Bangsal itu, yang banyak dan berkilauan itu, itu tahun 2000 ke bawah. Yang baru di ruang display? Atau tidak ada? Mari berpikir positif, piala itu menjadi kebanggaan sekolah kita di Ruang Kepala Sekolah.

Identitas

Banyak ruangan di SMA 7 memiliki banyak nama, tapi tidak dengan identitas yang sama dengan nama, Ruang Bahasa dengan meja dan kursi yang sama dengan Ruang IPA, Ruang Matematika mempunyai jangka yang sama dengan ruang IPS. Apa bedanya? Mungkin digunakan moving class. Kapan terkahir moving class?

Dengan SMA 7 yang -katanya- berbasis TI, apa yang IT dari SMA 7? Laboraturium komputer jelas, mungkin yang paling IT pola peminjaman buku yang tinggal klik. Tetapi ada yang melihat SMA lain yang tidak berbasis IT yang lebih canggih dari SMA 7. Mari berpikir positif, SMA 7 menyimpan teknologinya untuk saat yang tepat.

Belajar

Apa yang selama ini kita pelajari dari SMA 7? Selama tiga tahun pembelajaran di SMA 7 tidak relevan dengan apa yang ada di plat sekolah sebagai Sekolah Pusat Sumber Belajar. Yang kami dapatakan mungkin Matematika dari Bu Ida, rumus listrik dari Pak Pardjo, penyetaraan reaksi dari Bu Muslimah, atau ornamen dari Pak Ridwan. Hanya itu yang kami dapatkan dari sekolah ini. Terlepas dari 17 mata pelajaran untuk kelas X, KIR dan jam kesepuluh untuk kelas XI, dan PM untuk kelas XII, sebenarnya kami menginginkan nilai-nilai kehidupan, cara menghargai usaha dan karya orang lain dari mengerjakan PR sendiri-sendiri, bersatunya orang untuk kebaikan bersama, kreatifitas-kreatifitas yang bisa kami pertajam untuk setiap hari, inovasi yang digunakan untuk memperbaiki kehidupan, dan kepemimpinan untuk memimpin organisasi dan diri sendiri untuk Indonesia yang lebih baik, muluk memang, tapi itu kan salah satu tujuan adanya pendidikan? Mari berpikir positif, mungkin cara SMA 7 untuk menjadikan Sekolah Pusat Sumber Belajar belum bisa diterima dengan baik oleh siswa.

Motivasi

SMA 7 hari Sabtu identik dengan ramainya kantin, kemalasan siswanya, kuyu dan stresnya muka siswa kelas XII ketika PM dijam terakhir. Sebenarnya itu pemandangan umum di SMA 7, tetapi paling parah di hari Sabtu. Motivasi teman-teman sangat sedikit untuk belajar. Dan akan berakhir dengan pertanyaan “Sebenarnya kita untuk apa sekolah?”. Kita belajar bukankah untuk meneruskan kata-kata dokter, arsitek, TNI, presiden ketika ditanya cita-cita ketika masih kecil? Tidak semua, tapi banyak. Salah siswa?

Menurut pengamatan penulis, ketika mendengar cerita kakak tentang SMA 7 ditahun 2004-2007 tidak sesuai dengan yang dirasakan 2009-saat ini. Tidak ada event yang silih berganti, tidak ada tawa yang mengembang ketika cerita tentang SMA ke Ibu, dan tidak ada SMA 7 yang dulu. Mari berpikir positif, penulis terlalu berharap lebih dengan SMA 7 dan hanya melihat kenegatifan SMA 7.