“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya” – Ali bin Abi Thalib

__________________________________________________________________

Menulislah, atau kau akan menghilang dalam pusaran sejarah.

Katanya, menulis itu pekerjaan panggilan hati, seorang penulis itu penjaga peradaban agar tak punah, menulis berarti mengikat ilmu, menulis berarti seperti seorang bidan yang membantu kelahiran bayi-bayi sejarah yang akan dikenal, dirasakan, kemudian tumbuh menjadi besar. Menulis berarti membenihkan gagasan untuk ditelurkan sebelum akhirnya berkecambah seperti pohon kacang polong yang tumbuh terus-menerus hingga ke atas langit.

“A man may die, nations may rise and fall, but an idea lives on”. (John F. Kennedy)
Sebuah perkataan John F. Kennedy di atas berarti “orang bisa mati, negara bisa bangkit atau hancur, tetapi ide bisa hidup terus.”

Dikatakan bahwa ide bisa hidup terus, ya, hidup di hati orang-orang yang membacanya. Apalagi jika tulisan itu bermanfaat, InsyaAllah menjadi salah satu amal shalih kita, jika kita menulis dengan niat hanya karena-Nya.

Banyak orang didunia ini datang dan pergi tanpa sesuatu yang berarti, mereka datang seperti mendung dan menghilang seperti  hujan, bahkan jejak-jejaknya sendiri menguap tanpa bekas. Karena hidup kita tidak selamanya, tapi setidaknya ada jejak, walau setapak. Dengan tulisan, kita bisa melukis jejak itu kawan.

Kawan, jika kita ingin mengubah dunia tanpa harus menjelajahi dunia, kita bisa lakukan dengan menulis. Jika kita ingin mengubah sistem perpolitikan tanpa mengikuti partai politik, kita bisa lakukan dengan menulis. Banyak yang bisa kita lakukan dari menulis.

Dari menulis The Prince, Machiaveli bisa melahirkan pemimpin sejenis Hitler, Stalin dan Napoleon.

Dari menulis The Origin, Darwin bisa membuat orang tidak percaya pada proses penciptaan yang berakibat anti tuhan. Dari menulis Das Capital, Karl Marx bisa membuat sebagian besar dunia menjadi suram dengan faham komunismenya yang bertahan hampir seabad.

Nah, inilah intinya jika menulis dapat mengakibatkan kehancuran, maka menulis pun mampu membangun kejayaan.

Menulis dalam Islam adalah “kewajiban” kedua setelah perintah untuk “membaca”. Dapatkah kita bayangkan seandainya para pendahulu kita tidak menuliskan Al-Quran, maka mungkin kita tak akan menikmati mukjizat untuk seluruh umat manusia ini. Subhanallah…Allahuakbar…

Kita tahu da’wah itu wajib bagi setiap insan yang hidup, kita sebagai khalifah di dunia. Da’wah tak hanya dengan ceramah, da’wah juga dengan tulisan, da’wah bil qolam.

So, maukah anda menjadi penyebar ide-ide kebaikan kawan? .

**yuk, belajar bareng-bareng, karena saya juga masih belajar, dan akan terus belajar…

Semangat…!

“Kami adalah mata pena yang tajam
Yang siap menuliskan kebenaran”
(Izzatul Islam)

inspired from: muhsin.my.id