Halo para pambaca dimanapun anda duduk, disini saya ingin menuliskan, hmmm, apa ya? Kalo dibilang berita bukan, kalo dibilang publikasi juga bukan, hmmm… Sebut  saja diari seveners, ya, diari seveners, pake es nya dua.

Disini gue (wush, sekarang pake bahasa lo-lo-gue-gue :p) sekarang udah kelas 3, agenda dua minggu ini cuma ujian praktek. Ya, ujian praktek. Dan pada hari ini (08/04/10) jadwal kelasku adalah bahasa Jepang. Bahasa jepang adalah bahasa asing yang mayoritas baru dipelajari oleh para seveners sejak masuk SMA 7 (denger2 angkatan bawah ganti bahasa Jerman yah…). Kalo bahasa Inggris kan udah belajar sejak SD, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia sejak lahir. Nah ini, belajar Jepang bener-bener dari -1. Waktu berjalan selama 3 tahun, dan alhasil … (silakan tebak sendiri).

Nah, waktu itu ujiannya kan satu-satu gitu, dipanggilin menurut absen. Maka siswa lainnya nunggu di depan ruangan sambil komat-kamit mengucapkan kata-kata ga jelas kayak ayam mau melahirkan (emang ayam melahirkan ya?). Nah, kebetulan absen ku tu absen tengah, dan malang tu deket madiun, malangnya pemanggilan absen selang-seling dari depan-belakang trus depan-belakang, dst. Jadi menurut kaidah penarikan kesimpulan:

Premis 1: P->Q = Jika absen awal atau akhir, maka akan maju lebih awal.

Premis 2: Q->R = Jika maju lebih awal, maka bisa pulang cepat.

Konklusi: P->R = Jadi jika absen awal atau akhir, maka bisa pulang cepat

Nah, tapi disini posisiku adalah absen tengah:

Maka:

Premis 1: P->R = Jadi jika absen awal atau akhir, maka bisa pulang cepat.

Premis 2: ~P = Bukan absen awal atau akhir.

Konklusi: ~R = Tidak pulang cepat.

Ini artinya, aku pulang akhir. Duh nasib…

Ada beberapa temen dari kelas lain, yang mereka ngga’ bisa bercuap-cuap bahasa Jepang. Ujian praktek jepang tersebut mengulang sampe 2 kali, juga tetep ga lulus. Dan akhir-akhirnya mereka dikasi tugas suru buat karangan dalam bahasa Jepang. Sudah bisa ditebak, paling aku juga g lulus kayak mereka. Paling akhir-akhirnya juga disuru buat karangan.

Okela qkaloq beg-beqg-beqg gitu, gimana kalo sekarang ga usah belajar Jepang, tapi langsung aja buat karangan. Jadi besoknya waktu ujian tinggal sodorin tu karangan ke sensei (bahasa jepangnya guru). Ntar waktu ujian pas di panggil:

Sensei: “Berikutnya” *manggil namaku*

Gw: *masuk ke ruangan*

Sensei: “Hai’, silakan perkenalkan diri”

Gw: *nyerahin karangan jepang*

Sensei: *tercengang*

Gw: *keluar* “Berikutnya”

Sensei: *ngejar gue sambil bawa clurit*

Hehehe, ya gak lah…

Eniwei, ada sebuah cerita, ketika dalam penantian pemanggilan giliran masuk. Jadi waktu itu aku sedang menunggu di depan ruangan, ruangannya adalah ruang IPS2. Bisa dibayangkan kan, betapa nikmatnya duduk di depan kelas tu, dengan pemandangan kolam 7 yang ada ikan emasnya (ato ikan nila?), kebun-kebun bunga yang belum berbunga (lhoh!), rerumputan hijau, dan… yah, seperti yang seveners ketahui, bahaimana pemandangan disana di pagi hari. Selama kurang lebih setengah jam aku menikmati pemandangan tersebut, ditemani ngobrol sama temen yang duduk disebelahku.

Hingga suatu saat, aku merasa bosen juga kalo cuma ngeliatin kolam 7 terus, maka aku alihkan pandangan dua kali. Maka aku menyerongkan pandangan ke kanan dan kekiri. Yang kulihat saat itu adalah, sebelah serong kanan adalah UKS baru yang ada patung kelapa (ato batu, ga jelas tu…) dengan dua tanduk (ato batang, juga ga jelas…), sebelah serong kiri ada perpus. Maka aku lebih pewe menghadap ke UKS baru.

Nah, di UKS baru itu terlihat beberapa guru yang keluar masuk entah urusan apa. Namanya juga UKS, mungkin guru itu sakit, terus pas masuk udah sembuh, trus keluar lagi (mungkin). Ato guru-guru pada pewe di UKS baru yang en-be lebih nyaman dari ruang guru. Be-te-we, entah kenapa saat SMA 7 maju Sekolah Sehat tingkat Nasional ini, semuanya serba kesehatan. Beberapa perubahan yang ada:

  1. Setiap selang dua kelas, tembok bagian luar ada logo UKS.
  2. Setiap free space (tembok, ato dinding) dipasangi poster makhluk aneh (yang katanya dia dikutuk abis ngrokok).
  3. UKS dirombak jadi kayak hotel bintang 5 (lebay…)
  4. Kantin di renovasi jadi lebih bersih,
  5. Tumbuh banyak wastafel.
  6. Banyak tanaman-tanaman di sekolah.

Yang ga habis pikir, gimana seandainya SMA 7 menang lomba sekolah Kerohanian (misalnya) dan maju tingkaat nasional juga. Mungkin tembok kelas ditambahi logo rohis, terus ada poster isinya ayat-ayat Qur’an, trus mushala juga di rombak kayak hotel bintang 5 juga, ruang agama Katolik dan Kristen dubah kayak gereja, dbs.

Ato SMA 7 menang lomba sekolah bahasa Inggris, apa temboknya dicat bendera inggris (ato amerika), trus ada poster-poster inggris, dsb. Lalu bagaimana kalo menang lomba-lomba lainnya, kyak lomba jurnalistik, teater, tonti, PA, dsb. Bisa diprediksi tembok kelas bisa penuh dengan berbagai logo, dan dinding-dinding penuh dengan poster. Dan juga semua ruang SMA 7 jadi selevel bintang lima (wush… *amiiiin*)

Bek tu topic, jadi pas aku nunggu giliran masuk ujian bahasa jepang, aku melihat UKS baru. Berbagai kesibukan terlihat disana. Salah satunya adalah masih ada tukang yang menata-nata ruangan. Maklum, furnitur dan kelengkapan interior diganti baru (ato ambil dari ruang tamu?). Nah, hingga suatu saat aku lihat pak tukang sedang tata-tata kursi. Ada 3 tukang saat itu. Yang satu nata-nata, yang dua sedang angkat-angkat.

Hingga aku lihat salah seorang Tukang Berkaos Putih Memakai Celana Pendek Hitam Bertopi Yang Sedang Mengangkat Meja Dan Kursi (yang selanjutnya disingkat TBPMCPHBYSMMDK) keluar dari UKS baru itu sambil memengangkat meja coklat, yang kelihatannya itu meja baru, dibawa melewati belakang kolam 7 lalu melewati perpus, lalu belok ke ruang guru. Hmm…

Selang 2 menit, tiba-tiba TBPMCPHBYSMMDK dari ruang guru kembali ke UKS melewati perpus dan belakang kolam 7, mengankat meja coklat yang tadi ditemenin sama temennya, tapi temennya di belakangnya bukan angkat meja, tapi kursi hijau.

Selang 3 menit, TBPMCPHBYSMMDK dan temennya keluar lagi dari UKS yang keduanya terlihat masing-masing mengangkat kursi hijau, berjalan menuju ruang guru melewati kolam 7.

Lalu selang dua 5 menit, TBPMCPHBYSMMDK dan temennya kembali terlihat mengankat meja kelas dari arah ruang perpus digital melewati deretan kelas M2, M1, IPS1, IPS2, IPS3, IPS4, dan IPS5, dan juga melewati depan kolam 7 menuju ruang UKS lama, ato yang sekarang jadi ruang BK.

Selang 1 menit, TBPMCPHBYSMMDK kembali mengangkat meja kelas dari ruang BK melewati ruang IPS5,  IPS4, IPS3, IPS2, IPS1, M1, dan M2 menuju ruang perpus digital melewati depan kolam 7. Dan dibelakangnya selang 2 meter ada dua temen lainnya yang juga mengangkat meja kelas yang bentuknya sama seperti yang diangkat oleh TBPMCPHBYSMMDK.

Selang 2 menit, terlihat TBPMCPHBYSMMDK kembali masuk ke UKS. Dalam pikiranku, aku mencoba menebak-nebak apa yang kiranya akan dikeluarkan oleh TBPMCPHBYSMMDK, entah meja ato kursi. Sayangnya, belum juga TBPMCPHBYSMMDK keluar dari UKS, aku dipanggil masuk untuk ujian jepang. Ohhh… Ada dua hal yang aku pikirkan (ato rasakan):

  1. Deg-degkan karena mau di introgasi sama sensei.
  2. Nyesel, ga sempet ngelihat kelanjutan drama angkat meja oleh TBPMCPHBYSMMDK.

Tapi gapapa, maju paling 10 menit. Trus bisa lihat lagi proses angkat meja.

Sekeluarnya aku dari ruang introgasi (dengan muka melas kerena harus ngulang ujian), kembali aku duduk ko posisi semula. Tapi ternyata-eh ternyata, si Tukang Berkaos Putih Memakai Celana Pendek Hitam Bertopi Yang Sedang Mengangkat Meja Dan Kursi (TBPMCPHBYSMMDK) dan temen-temennya tadi udah pada istirahat. Selesai deh ceritanya….

PS: Akhirnya aku bisa lulus ujian tanpa harus membuat tugas, meskipun mengulang 2 kali.