Alhamdulillah, masih fresh otak saya buat nge-post.

Ada satu hal yang menggelitik saya ketika saya shalat Ashar di suatu masjid di Wirobrajan. Di situ ada boks kaca untuk menempelkan koran harian. Saya hampiri sejenak setelah shalat untuk membaca koran tersebut. Akan tetapi setelah mendatangi boks itu, saya tidak terfokus pada koran namun pada sebuah stiker, yang intinya sama seperti judul di atas. Lalu disitu kita diajak untuk menyedekahkan sebagian uang kita ke lembaga – lembaga yang sudah ada. Saya berpikir sejenak, mengapa seperti itu?

Kemudian dalam suatu ceramah sebelum shalat Tarawih, penceramah juga menyinggung masalah ini. Apa yang penceramah takutkan sebenarnya tidak terpikirkan oleh saya. Bagaimana kita bisa latihan dalam menyedekahkan sebagian uang kita? Bagaimana kita bisa melatih hati nurani kita dengan melihat langsung si peminta? Kalau di suatu lembaga, ya kalau kita masih giat bersedekah. Bagaimana bila kita MENJADI MALAS BERSEDEKAH lagi? Padahal sedekah adalah tabungan kita nanti di akhirat.

Saya menangkap sesuatu disini. Ada benarnya juga, ketika kita tidak memberikan sedekah kita kepada sumber yang kurang terpercaya. Artinya kita tidak tahu apakah itu memang ia (peminta) gunakan untuk mengisi perutnya yang kosong, atau disetor ke penadah uang pengemis. Dan mungkin maksudnya lembaga itu, adalah seperti saat kita menginfaqkan uang kita di masjid lewat kotak infaq, atau bisa juga lewat lembaga lain.

Sebenarnya hal itu kembali pada diri kita sendiri, apakah kita mau menginfaqkan uang kita langsung kepada fakir miskin di jalan – jalan, atau kita lewatkan lembaga – lembaga yang menyediakan jasa untuk bersedekah. Karena sebenarnya menurut saya sama saja. Seandainya langsung, kita tidak mengetahui apakah si peminta – minta tergabung dalam suatu organisasi pengemis (misalnya), lalu uangya di setor, bukan untuk dirinya. Ya, kita percaya dan yakin saja apa yang kita keluarkan untuk sedekah itu adalah amal jariyah yang ikhlas dari kita. Semoga Allah SWT mengampuni kita yang tidak mengetahui.