Marhaban Yaa Ramadhan, selamat datang bulan Ramadhan!

Itulah yang sering kita baca di jalan – jalan raya, bahkan lewat sms. Euphoria bulan yang paling disucikan oleh umat Muslim seluruh dunia ini, sungguh sangat terasa sampai lubuk hati terdalam. Jika kita sering memperhatikan minggu – minggu pertama bulan Ramadhan ini, sebenarnya kita akan merasa geli sendiri. Mengapa?

Kita semua tentunya sangat senang dan antusias terhadap kegiatan ibadah yang hanya datang setelah sebelas bulan sekali ini. Bahkan tidak bisa diukur dengan meteran. Kita juga sering berjanji kepada diri kita sendiri, hari pertama mau apa, setelah itu apa, dan besoknya lagi apa. Coba tebak, berapa persen yang menepatinya?

Saat shalat Tarawih pertama (21/08), seluruh masjid penuh dengan umat Muslim yang melaksanakan shalat jama’ah Isya’ dan shalat Tarawih. Saf – saf penuh dari depan sampai belakang. Setelah itu, Subuh juga penuh. Dzuhur, Ashar, Maghrib, sampai Isya’ dan Tarawih masih penuh. Hari ketiga? Saf paling belakang kosong. Hari keempat? Cuma 2 saf. Nah, bagaimana itu? Semoga itu bukan riya’ (amin).

Kadang kita menyikapi suatu hal secara berlebihan, tanpa keyakinan dan kesanggupan. Mengapa kita berangkat ke masjid pada saat itu, setelahnya tidak? Mengapa kita bicara “yakin” sebelum Ramadhan, “lemes” saat bulan Ramadhan?

Mari kita introspeksi diri, apakah kita sudah siap dalam menghadapi bulan Ramadhan ini, bulan yang sangat mulia dan berkah ada dimana – mana? Jika anda dapat menyanggupi kegiatan – kegiatan ibadah selama bulan Ramadhan ini dan manut dengan aturan yang berlaku, anda siap menghadapinya. Jika anda seperti apa yang saya ceritakan tadi, berarti anda belum siap. Jadi, anda sekarang berada di posisi yang mana? Jawab sendiri, dan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan!