Judul diatas merupakan sebuah judul berita dalam koran mingguan Minggu Pagi yang terbit di Yogyakarta, terbitan No 21 Minggu IV Agustus 2008. Pertama kali membaca judul tersebut, terbesit dalam benak “Wah, sepertinya berita menarik, bikin penasaran ada apa dengan rekor MURI”. Kubaca dengan cermat berita tersebut, dan paragraf selanjutnya pada tulisan ini adalah kutipan dari berita tersebut beserta komentar dari saya.

Adalah seseorang yang pernah mendapatkan rekor MURI, Drs Martoyo, pemilik sebuah catering yang mendapatkan rekor MURI karena menggali, mengumpulkan dan membuat 212 jajanan pasar tradisional yang ditampilkan dalam tampah raksasa bersamaan dengan peringatan HUT TNI 5 Oktober 2002 di Pagelaran Kraton Yogyakarta. Beliau membutuhkan waktu 3 bulan untuk menginventarisasi keberadaan jajanan tradisional, dilakukan hingga sampai pelosok pedesaan, hingga menghabiskan biaya sekitar 6 jutaan.

Seorang lagi, Lisa Sanjaya, memegang 6 rekor MURI yang diantaranya didapatkan dari acara pesta gudeg 1 (satu) ton dan kendi manunggal HUT TNI pada tahun 2002, yang bertujuan ingin mengangkat potensi Yogyakarta beserta keunikannya. Kenginan tersebut dilandasi dengan kerja keras dan biaya yang tidak sedikit, hingga bisa meraih rekor penghargaan MURI tersebut.

Dahulu penghargaan MURI menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi peraihnya, dengan berkompetisi membuat karya yang benar-benar unik dan pencapaiannya membutuhkan kreativitas dan kerja keras. Akan tetapi kedua orang tersebut diatas mengaku kecewa dengan penghargaan MURI sekarang. Drs Martoyo berkomentar bahwa sekarang ini hal-hal sepele pun dicatat, beliau pun merasa kecewa dan merasa tidak ada kebanggaan lagi masuk rekor MURI.

Kita harus benar-benar berjuang keras dan memeras kreativitas untuk bisa mendapatkan penghargaan (salah satunya dari MURI). Meskipun saya sendiri tidak sanggup memiliki rekor semacam itu, tetapi saya bisa merasakan bagaimana jerih payah kedua orang tersebut hingga akhirnya bisa mendapat penghargaan atas karyanya tersebut. Ya kita bisa menilai sendiri, pada kenyataannya sekarang ini sepertinya memang terkesan mudah bagi seseorang/pihak untuk bisa mencatatkan diri ke MURI.

Kita mengetahui akhir-akhir ini bahwa kemarin ada rekor mie terpanjang, kemudian disusul pembuatan miniatur Candi Borobudur menggunakan bungkus mie. Mungkin bagi orang kebanyakan berpendapat bahwa itu memang sebuah rekor karena bisa membuat hal seperti itu, unik dan pertama kali juga. Namun kita juga bisa menilai bahwa rekor tersebut sangat berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang tersebut diatas. Jika kita cermati, pencatatan rekor tersebut dibuat oleh perusahaan makanan instan ternama, dengan tujuan sebagai alat promosi produk, untuk mendongkrak pemasaran produk mereka. Yang pasti mereka jelas mampu dari segi biaya, dan dengan tujuan lain tersebut.

Bisa kita lihat dalam blog http://muri-rekor.blogspot.com/ atau situs resmi http://www.muri.org/, informasi mengenai apa saja rekor MURI yang telah ada. Kita bisa mengamati dan menilai, manakah rekor yang benar-benar merupakan sebuah rekor sesungguhnya dengan kerja keras dan kreativitas seperti apa yang dilakukan Drs Maryoto dan Lisa Sanjaya diatas, atau bukan.

Seseorang bernama Shifu Jonathan Purnomo berpendapat dan mengamati bahwa pencatatan rekor MURI hanya sebatas kuantitas, namun belum tersentuh mengenai penghargaan atas sebuah ide kreatif dalam sebuah karya yang memerlukan pemikiran dan mengutamakan intelektualitas. Terkait dengan pendapat tersebut, bisa kita baca pada Tanya Jawab di situs MURI mengenai “Apa kriteria sebuah rekor dapat di catat di MURI?”

Memenuhi salah satu kriteria dibawah ini :
Yang Pertama, – Segala sesuatu yang belum pernah dilakukan ataupun ada di Indonesia. Bisa berupa kegiatan, bisa juga berupa penemuan benda atau alat.
Yang Paling/ Ter, – Segala sesuatu yang bersifat superlatif, bisa berupa benda dengan ukuran tertentu, ataupun berupa kegiatan dengan jumlah peserta tertentu, dsb.
Yang Unik, – Segala sesuatu yang unik, diluar kebiasaan yang ada dan belum pernah dilakukan oleh orang lain.
Yang Langka, – Sesuatu yang jarang ada atau mempunyai keistimewaan tertentu.

Terkait dengan kriteria tersebut, ternyata memang tidak disebutkan “ide kreatif” untuk karya yang layak diberi penghargaan. Dalam artian: yang penting sudah termasuk kategori/kriteria tersebut maka bisa mendapatkan penghargaan, tanpa melihat siapa/apa yang ada di belakangnya. Nah, terlepas dari judul tulisan ini, jika kalian ada yang berminat mencatatkan diri untuk meraih rekor MURI, maka buatlah karya yang bagus, unik, menarik, dan langka. Semoga sukses! :) Kalian pasti juga bangga bisa meraih rekor dan mendapat penghargaan.

Sumber: Rangkuman berita Minggu Pagi.