Telah hilang sebuah telpon umum di tiang depan ruang waka gedung utama SMA N 7. Telpon umum yang lahir pada zamannya pak Harto itu diprediksi hilang karna di ambil oleh yang punya. Lalu siapa pemilik telpon umum itu? Sesuai dengan namanya telpon umum itu jelas milik umum atau milik orang banyak. Telpon ini menghilangkan jejak berupa bekas kotakan sesuai bentuknya.

Meski hilang, telah dipasang sebuah telpon umum baru di depan sekolahan, tepatnya di depan ruang piket yang baru. Telpon umum yang baru ini dipasang oleh petugas Pelayanan Telekomunikasi berseragam biru pada hari Senin 11 Agustus 2008 pukul 09.30 WIB.

Dan kini telpon umum itu siap melayani semua publik 24 jam dengan harga ekonomis. Untuk satu kali telponnya, anda hanya dikenai biaya satu koin. Entah itu satu koin 100-an, atau koin 500-an, atau juga koin 1000-an. Tapi yang jelas pasti anda akan memilih membayar dengan koin 100-an.

Semoga telpon umum itu berguna bagi nusa dan bangsa. Seperti halnya di Jepang. Disana hanya sedikit orang yang punya HP. Itu dikarnakan bukan karna mereka tidak punya uang untuk membeli HP. Dan tidak dikarnakan mereka itu tidak bisa membuat HP atau mengimpor HP. Tapi karna pelayanan komunikasi di negara itu sangatlah memadai. Semoga saja di SMA N 7 juga bisa seperti itu.

Kita semua berharap semoga telpon umum itu jangan cuma 1, tapi perlu ditambah beberapa lagi. Dan kalau bisa di setiap blok SMA N 7 ada 1 telpon umum. Atau bahkan di setiap ruangan ada 1 (WOW, mimpi kali yee). Tapi sekarang lebih baik kita besyukur, sudah ada 1. Meski cuma 1 ya nggak papa. Yang penting kan manfaatnya. Satu tapi optimal lebih baik daripaa banyak tapi cuma nganggur dan akhirnya rusak. Kalu emang kita pingin jumlah telpon umum itu ditambah, kita mesti mengoptimalkan dulu fugsi 1 telpon umum yang ada di depan sekolah itu. Ok…