Sebuah renungan yang didikasikan untuk kota Yogyakarta mengenai berbagai hal berhubungan dengan jati diri kota pelajar melihat fenomena periodisasi perkembangan anak-anak kita mengekpresikan jati diri dengan berbagai macem ada yang corat-coret ditembok, disarana umum patut disayangkan dengan tulisan-tulisan yang ada makna tapi tidak berarti bisa-bisa dengan tulisan tersebut menimbulkan permasalahan mengarah pada ketidak puasan atau malah bisa tindakan yang tidak terpuji tawur hanya gara-gara tulisan kelompok tertentu di ping (jawa, baca: disilang) (X) atau dihapus. Padahal pak Walikota dengan berbagai upaya memperindah kota Yogyakarta ini jadi berhati nyaman.

Dengan melihat kenyataan yang ada mungkin dapat kita identifikasi dari berbagai aspek entah itu signifikan atau tidak yang jelas ini sebuah renungan seandainya dari sisi pendidikan bagaimana menciptakan sebuah lembaga pendidikan yang nyaman kondusif bisa ditempuh dengan berbagai cara. Mungkin banyak kasus yang menyebabkan adanya pertikaian tersebut, dan kesemuanya berawal dari adanya perbedaan. Memang perbedaan bukan hal yang patut diperdebatkan, tinggal bagaimana kita menyikapinya

Tetapi lain halnya dengan anak-anak SMA, yang umumnya adalah remaja yang menuju kedewasaan, mereka mungkin menyikapi perbadaan tersebut sebagai pemisah antar satu sekolah dengan yang lain. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mungkin patut untuk dicoba dan mungkin diimplementasikan kedalam budaya sekolah.

Disini saya menyoroti dari sisi seragam sekolah seandainya keberadaan seragam sekolah kalau boleh abu-abu putih yang dipakai setiap hari Senin hingga Kamis, tetapi tidak disertai dengan badge identitas sekolah. Mengapa? Karena dengan demikian tidak akan ada lagi sebuah tanda perbedaan, yang ada nantinya hanya persamaan identitas sebagai seorang siswa, SMA pada khususnya. Dan dengan sendirinya setiap siswa SMA di Kota Yogyakarta ini akan merasa satu sebagai seorang pelajar yang bangga akan jati dirinya sebagai pelajar dan tanpa rasa takut menunjukkannya. Maka, hal-hal seperti tawuran atau yang lainnya akan dengan sangat mudah untuk dihindari.

Menilik kota Yogyakarta merupakan kota yang mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap kebudayaan Jawa, dengan berbagai macam khasanah budayanya. Salah satunya adalah batik, warisan budaya yang tak ternilai harganya. Mungkin kita bisa mengambil batik dengan motif parang ditengah-tengahnya ada simbol atau identitas kraton atau kota Yogyakarta untuk digunakan sebagai seragam sekolah siswa pada hari Jumat. Dengan pertimbangan keseragaman, serta pelestarian kebudayaan kita. Maka mungkin dengan begitu akan banyak membawa dampak yang baik bagi kota Yogyakarta tercinta.

Sedangkan pada hari Sabtu anak-anak diberi kebebasan memakai baju, namun tidak boleh pakai kaos secara bebas mengingat ekspresi kepribadian anak bisa kita lihat (mungkin) secara psikologis karakter-karakter anak bisa kita lihat dari cara berpakaian entah dari corak dan warna karena pepatah jawa mengatakan bahwa ajining rogo kuwi soko busono artinya saya tidak bisa membuat difinisi secara valid. Mengapa harus seragam bebas tetapi tetap pakai sepatu dan santun? Karena di hari Sabtu puncak kejenuhan anak-anak SMA yang harus dipusingkan dengan mempelajari banyak pelajaran dan tugas-tugas dari guru bisa mengurangi beban anak dengan seragam bebas saya berkeyakinan anak-anak memiliki ekpresi yang menyenangkan sehingga titik kejenuhan dihari-hari buncit bisa terkaver. Ini semua kembali kepada “seandainya”.