“Diminta siswa yang memakai seragam biru putih untuk bergeser ke selatan menyatu dengan barisan SMP”. Demikian perintah sang pembawa acara sebelum upacara bendera dalam rangka HUT RI ke 62 di lapangan Minggiran dimulai.

Perintah ini langsung dilaksanakan oleh komandan peleton (TNI) yang meminta barisan ’seragam baru SMA’ (baca: biru putih). Kontan saja siswa protes yang didukung oleh beberapa guru untuk bertahan. Sang gurupun memberi penjelasan cukup lama kepada sang komandan peleton, bahwa mereka bukan siswa SMP.

Para pembaca kiranya dapat merasakan bagaimana perasaan siswa kelas X yang dicap sebagai siswa SMP itu. Wajarlah kalau mereka sakit hati dan protes. Dengan kejadian di atas ternyata tidak semua lapisan masyarakat mengerti keadaan yang ada sekarang ini. Kalau seperti ini siapa yang seharusnya merasa bersalah? Jelas siswa dan orang tua tidak, lantas sekolah atau Pemerintah Kota Yogyakarta atau siapa?

Bagi kita yang sudah terlanjur biarlah berlalu, kita benahi masa depan generasi mendatang dengan sungguh-sungguh. Karena di tangan merekalah nantinya negara dan bangsa ini dikendalikan. Mereka adalah aset bangsa yang tidak dapat dijadikan kelinci percobaan. Sebagai orang tua tentu sadar bahwa anak adalah investasi yang tiada ternilai. Demi kemajuan dan kepandaian anak pasti sekuat tenaga diupayakan.

Kepada semua pihak kiranya memberikan masukkan kepada pemerintah secara kaffah (menyeluruh) tidak hanya sekedar mengkritik tetapi juga berikan solusinya. Pandanglah setiap permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat secara konverhensif, tidak sepenggal-sepenggal.
Anak sering bertanya ’Kapan rapatnya Pak?”.
Rupanya meraka tidak nyaman lagi memakai seragam biru putih.

“Selamat Bermusyawarah Demi Generasi Masa Depan”