18 Jan
Dituliskan oleh Tukang ngadmin dalam kategori Berita, Lain-lain, Opini, Seputar SMAN 7
Kemarin pada tanggal 16 Januari 2007, kami menerima curhat melalui sebuah email dari seorang siswa. Terus terang saja, kami dari Tim Pengembangan ICT SMA Negeri 7 Yogyakarta turut memaklumi atas perasaan (dan permasalahan) tersebut, namun kami juga tidak bisa memberikan solusi. Mungkin memang juga tidak hanya dia saja yang mengalami hal tersebut, namun bisa dikatakan juga semuanya yang berstatus pelajar sekolah, baik dari SMA 7 ataupun disekolah-sekolah lain.
Bukan kami bermaksud juga untuk membela diri (atas nama instansi pendidikan) dan/atau malah menyalahkan atas hal itu. Namun yang pasti hal ini juga layak untuk kita ketahui bersama, bagaimana perasaan seorang siswa dengan yang mereka dapati sekarang ini, dan mestinya hal ini juga terjadi di kalangan siswa sekolah lain.
Berikut kutipan curhat yang kami terima:
SEKOLAH bagai neraka buat kami. Pelajaran kami anggap api neraka yang selalu menyiksa kami. Dan guru-guru kami sebut penjaga-penjaga neraka yang selalu memperhatikan apakah kami sudah tersiksa atau belum.Hiperbolis? Tidak! Ini adalah kenyataan yang saya rasakan dan mungkin banyak dirasakan teman-teman yang lain juga.
Nggak percaya? Coba aja lihat gimana reaksi teman-teman ketika ngedenger misalnya, besok libur. Mayoritas dari kami akan bersorak gembira. Hanya sedikit bahkan tidak ada sama sekali dari kami yang akan merasa sedih kalau besok nggak bisa masuk sekolah karena libur. Kalau kami berfikir sekolah itu surga, tentunya kami nggak akan bersorak gembira begitu mendengar kata libur.
Kenapa saya bilang school is hell?
Karena sekolah telah merampas kebebasan kami. Kami dipaksa menyerahkan masa muda kami di lembaga yang penuh penyiksaan itu. Demi masa depan? Kalau benar begitu, lalu kenapa kami banyak mendapatkan pelajaran yang nggak ada hubungannya dengan masa depan kami atau pelajaran yang jelas-jelas susah diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.Kenapa saya bilang school is hell?
Karena kami sudah mual dijejali oleh banyak materi pembelajaran. Bahkan kami tak sempat mencerna pelajaran di tiap-tiap bab sebab kami harus mempelajari bab berikutnya karena tuntutan kurikulum.Kenapa saya bilang school is hell?
Karena sekolah tidak memotivasi kamu untuk belajar. Emangnya motivasi itu dateng tiba-tiba? Kiriman Tuhan dari langit? Salah! Motivasi itu bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Motivasi itu harus ditumbuhkan.
Sementara sekolah tidak hanya tidak memotivasi. Tetapi sekolah juga telah menghilangkan motivasi belajar kami dengan memberlakukan sistem penilaian angka pada raport. Tujuan kami pergi sekolah pun bukan lagi untuk mencari ilmu, tetapi untuk mengejar nilai raport yang tinggi. Sehingga kami berfikir proses belajar itu nggak penting. Yang penting hasil akhir. Dan itulah yang bikin kami sekarang punya hobi baru: nyontek! Sebab dengan mencontek kami nggak perlu repot-repot menumbuhkan motivasi belajar dan susah-susah belajar. Bukankah yang penting itu nilai akhirnya.Kenapa saya bilang school is hell?
Karena di sekolah, kami hanya jadi obyek. Kami harus menerima apapun yang guru berikan. Kami tidak diberi kesempatan untuk memilih pelajaran yang kami inginkan. Jadi, sekolah itu buat siapa? Buat kami atau guru? Sebenarnya dengan ngasih kami kesempatan buat milih, kami jadi memiliki rasa tanggung jawab akan pilihan kami. Tapi kalo caranya kaya sekarang, boro-boro tanggung jawab. Yang ada cuma males buat ngedengerin apa yang guru ajarkan.And last but not least, kenapa saya bilang school is hell?
Karena kami hanya menjadi korban transaksi jual-beli yang dilakukan sekolah sebagai imbas dari program wajib belajar. Kami diwajibkan beli buku ini-itu. Beli barang ini-itu. Padahal nggak sedikit di antara kami yang nggak mampu beli itu.
Sebenarnya masih banyak alasan kenapa saya bilang school is hell. Tapi takutnya keburu enek baca curhatan saya ini.Curhatan ini sebenarnya adalah tantangan buat orang-orang yang menyebut dirinya pendidik. Kalau tantangan ini tidak bisa dijawab oleh para pendidik itu, jangan aneh kalo tiap ulangan banyak anak yang ketahuan nyontek. Banyak anak yang bolos sekolah, atau, yang lebih parah lagi, banyak anak yang akan mencoba bunuh diri. Lalu, haruskah sekolah terus eksis?***
7 Responses
luciustori
January 19th, 2007 at 22:38
1Banyak hal yang tidak sesuai dengan jalan yang kita pilih, namun selalu saja kita harus melakukan hal itu dengan keterpaksaan. Saya juga pernah merasakan kejenuhan bangku SMA, dengan kejenuhan itu banyak hal yang seharusnya tidak etis dilakukan, “terpaksa” saya lakukan. kenapa? untuk membuang kebosanan, tapi hanya semata-mata untuk itu.
namun sekarang saat menjalani masa dimana saya bekerja dan bersosialisasi dengan masyarakat, sedikit banyak pelajaran yang dipaksakan itu berguna..dan tidak sedikit pula saya menyesal saat tidak paham sesuatu pelajaran bukan karena tidak tahu..tetapi cenderung saya tidak mau tahu! hal itu terjadi sekarang..!! Menyesalkah saya? YA..!!!
Selain itu banyak temen kita yang tidak bisa sekolah, tapi saat anda bisa sekolah mengapa anda lewatkan?
Semua ilmu adalah baik, tinggal bagaimana kita menerapkannya.
Jangan sampai menyesal dikemudian hari…!!
Tetap semangat, raih prestasi dan banggakan orang tua anda dan SMA 7 Yogyakarta…!!
****missing****
January 28th, 2007 at 17:42
2aduh..
seharusnya ada tindak lanjut mengenai curhat siswa tersebut… tapi maw bagaimana lagi… kelihatanya yang diungkapkan siswa tersebut benar…lebihbaik introspeksi.. baik sekolah ataupun siswa…wujudkan bahwa sekolah bukanlah neraka tetapi suatu hal yang menyenangkan… belajar itu usaha yang tergantung dengan lingkungan tetnunya.. tolong dengarkan suara siswa… sekolah jangan hanya mengejar RATING!!! percuma saja kalau hanya mengejar rating tapi otak dan kemampuan siswa (maaf, termasuk guru) tidak memadai! dengan begitu akan timbul kesan memaksa…bukan sekolah kalau tak ada siswa.. dan guru bukanlah guru tanpa murid..sebenarnya apa yang utama atau misi utama suatu sekolah?? RATING kah? atau murid yang nyaman dengan kondisi belajar mereka? ataukah duaduanya? perlu adanya keseimbangan.. lihat kemampuan murid…seperti suatu muslihat,, segala sesuatu diprbaiki, diperbagus ketika tim penilai datang,, setelah tim pergi,, TARA, kembali seperti biasanya,,, tolong jangan begitu…jangan cuma anggapan orang luar saja tentang sekolah itu baik, tapi anggapan orang dalam juga..kasihan siswa,bingung dengan peraturan yang kadang berlaku, kadang tidak…salut dengan SMA 7… bagi para siswa jangan mengeluh.. saya yakin SMA 7 MENCOBA memberikan yang terbaik bagi kalian… tetap semangat SMA 7!
vendy
March 10th, 2007 at 20:28
3bener koq ^.^
mbah_B
May 4th, 2007 at 9:06
4yang namanya hidup itu ada saat kita dibawah ada saat kita diatas… sebelum mencapai puncak kejayaan kita kan harus mendaki dulu…Nah, saat ini kita baru mendaki, tentunya kita kan dituntut untuk survive, melawan kabut ketidak jelasan, melawan hawa dingin, harus tepat dan akuran saat membaca peta dengan kompas kalo g nanti kita malah cuma masuk jurang penyesalan yang harus kita daki lagi kalo kita udah “terperosok” kedalamnya.
aku yakin siapapun dari kita punya keistimewaan masing2 (memang…) jadi, terima apa aja yang saat ini udah didepan kita.. toh kita tidak tau besok kita mau jadi apa.
tul ga???
Meenan
May 18th, 2007 at 8:35
5Sekolah itu mungkin sekarang sangat menyebalkan, mungkin saya setuju kalau dibilang school’s hell… tapi mungkin juga neraka ini akan membawa kita ke surga… bisa khan?!?!?!
Wildan
June 16th, 2008 at 9:35
6Ya kau harus sabar jadi orang ya.
akurat
August 9th, 2008 at 20:22
7ada siswi di surabaya sudah 2x tidak naik kelas di santamaria ,..ternyata siswi tersebut dah pindah ,.. 2tahun kemudian dia kembali lagi ke surabaya,.. sekolah di hendrikus ,.. klo dihitung ,..kok dia sekelas lagi sama saya,.. berita ini boleh di cek kebenarannya dia teman saya ,..bernama justine tengkilisan,.. info yg aku tulis ini dengan maaf aku tidak memuat nama asli ku makasih
RSS feed for comments on this post · TrackBack URI
Leave a reply
Kategori
Arsip Koran Seveners
Koneksi Lain
Link
Meta
Kalender
Foto dalam Flickr
Recent Entries
Recent Comments
Most Commented
Koran Seveners is proudly powered by WordPress - BloggingPro theme by: Design Disease